Menurutnya, lumbung padi menggambarkan sebuah keluarga yang memiliki persediaan pangan dan tidak mudah bergantung kepada pihak lain.
Karena itu, ketahanan pangan menjadi salah satu agenda penting yang perlu diperjuangkan ICMI Aceh.
Ketahanan pangan, kata Taqwaddin, bukan sekadar persoalan pertanian. Di dalamnya terdapat persoalan kemandirian, ekonomi masyarakat, kesejahteraan dan martabat sebuah daerah.
Para cendekiawan, lanjutnya, harus mampu membaca persoalan tersebut dan menawarkan solusi yang dapat dilaksanakan.
“Cendekiawan Muslim Aceh diharap bekerja untuk membantu terwujudnya Aceh mulia dan membangun kesejahteraan masyarakat Aceh,” katanya.
Kepemimpinan ICMI
Taqwaddin juga menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam ICMI memiliki karakter berbeda dengan kepemimpinan kepala daerah.
Menurutnya, kepala daerah memiliki otoritas pemerintahan, sedangkan ICMI merupakan organisasi kemasyarakatan dengan peran, fungsi dan otoritas kelembagaan yang berbeda.
“Kepemimpinan di ICMI berbeda dengan kepala daerah, baik otoritas, peran maupun fungsi kelembagaannya,” ujarnya.
Ia mengatakan kepemimpinan dalam organisasi cendekiawan lebih banyak bertumpu pada gagasan, keteladanan, kemampuan membangun komunikasi dan kerja bersama.
Dalam konteks itu, Taqwaddin juga mengungkapkan perjalanan kepemimpinan ICMI Aceh pada periode sebelumnya.
Ia menyebutkan bahwa dalam dinamika organisasi yang berkembang ketika itu, ICMI Aceh sempat berada dalam kondisi yang membuat roda organisasi seperti kehilangan napas.
“ICMI Aceh dalam periode lalu pernah sempat seperti kehilangan napas karena kondisi yang berkembang saat itu,” ujarnya.






