Ketua MPW ICMI Aceh: Cendekiawan Muslim Jangan Hanya Andalkan Intelektual, tapi Juga Teladan dan Kerja Nyata

Ketua MPW ICMI Aceh, Dr Taqwaddin, menyampaikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VIII ICMI Aceh di Hotel Azana Oasis Banda Aceh, Sabtu (12/9/2026). Dalam sambutannya, ia mengajak cendekiawan Muslim Aceh menghadirkan kesantunan, keteladanan dan kerja nyata untuk membangun kesejahteraan masyarakat • IST.

Pernyataan mengenai pengakuan Aceh terhadap Belanda tersebut memang terdapat dalam sejumlah tulisan sejarah populer dan kajian yang membahas hubungan awal Aceh-Belanda.

“Kerajaan Aceh lebih tua dari Kerajaan Belanda. Aceh adalah kerajaan pertama yang mengakui kemerdekaan Belanda pada 1603,” ujar Taqwaddin.

Ia kemudian menceritakan bahwa pernah ada seorang profesor berkebangsaan Belanda yang menyampaikan permintaan maaf melalui Ketua ICMI Aceh terkait sejarah penjajahan Belanda terhadap Aceh.

“Ada seorang profesor berkebangsaan Belanda meminta maaf melalui Ketua ICMI Aceh. Beliau mengatakan, seharusnya Belanda tidak berperang dengan Aceh,” ungkapnya.

Taqwaddin mengatakan sejarah tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi generasi sekarang. Kejayaan dan kedaulatan Aceh pada masa lalu harus menjadi energi untuk membangun Aceh masa kini, bukan sekadar nostalgia.

Sejarah juga mencatat bahwa hubungan Aceh dan Belanda kemudian berubah menjadi konflik panjang. Perang Aceh melawan Belanda berlangsung sejak 1873 dan menjadi salah satu perang kolonial terpanjang dan paling berat yang dihadapi Belanda di Nusantara. (Scholar Hub⁠)

Lumbung Padi dan Ketahanan Pangan

Dari sejarah tersebut, Taqwaddin kemudian membawa peserta Musywil kepada persoalan Aceh hari ini, khususnya ketahanan pangan.

Ia mengingatkan bahwa pada masa lalu, salah satu simbol kemuliaan dan kesejahteraan keluarga Aceh adalah keberadaan lumbung padi di rumah.

“Dulu salah satu simbol kemuliaan dan kesejahteraan adalah lumbung padi di rumah,” katanya.

Pos terkait