Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Para dosen langsung melakukan praktik menyusun prompt dan mengembangkan rancangan RPS berdasarkan mata kuliah yang mereka ampu. Sesi tersebut berlangsung interaktif melalui diskusi, berbagi pengalaman, dan evaluasi hasil praktik.
Ketua Program Studi PGSD, Ruslaini, S.Pd., M.Pd., mengatakan lokakarya merupakan bagian dari strategi program studi untuk meningkatkan kualitas sumber daya dosen sekaligus merespons perubahan teknologi dalam dunia pendidikan.
“AIDT bukan untuk menggantikan peran dosen, tetapi menjadi alat bantu untuk meningkatkan kreativitas, efisiensi, dan kualitas pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi,” katanya.
Ketua Panitia, Helmi Suardi, S.Pdi., M.Ed., menambahkan kegiatan dirancang agar dosen tidak hanya memahami konsep kecerdasan buatan, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas akademik.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi dan praktik. Para dosen saling bertukar pengalaman serta mengeksplorasi pemanfaatan AIDT untuk kebutuhan pembelajaran dan penyusunan perangkat akademik.
Melalui kegiatan tersebut, Prodi PGSD UNIDA menegaskan komitmennya membangun kompetensi dosen yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pemanfaatan AIDT diharapkan tidak sekadar menjadi kemampuan teknis, tetapi menjadi instrumen untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, efektif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Lokakarya ini sekaligus menjadi langkah PGSD UNIDA dalam memperkuat kualitas dosen dan memastikan transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi benar-benar bermuara pada peningkatan mutu pendidikan. []






