BANDA ACEH – Sebanyak 10 siswa dan 3 orang guru SMPN 4 Banda Aceh mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh, diduga usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, Kamis (29/10/2026).
Informasi awal diterima media ini, kemudian awak media menanyakan langsung kebenarannya kepada petugas parkir di sekitar sekolah dan membenarkan adanya siswa dan guru yang dilarikan ke rumah sakit.
“Benar pak, ada 6 siswa sempat dibawa ke Rumah Sakit Kesdam setelah menyantap nasi MBG, termasuk ada juga para guru yang dibawa ke Rumkit,” ujar petugas parkir tersebut.
Ia kemudian menyarankan awak media untuk mengecek langsung ke Rumkit Kesdam.
Dari hasil penelusuran di Rumkit Kesdam, terlihat beberapa guru dan staf Dinas Kesehatan berada di lokasi. Informasi yang diterima, Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh juga turut hadir bersama sejumlah pejabat terkait.
Sementara itu, salah seorang guru SMPN 4 Banda Aceh menjelaskan, kejadian bermula saat siswa menyantap MBG. Salah seorang siswa sempat mengeluh gatal-gatal di bagian mulut usai memakan ikan yang ada di dalam menu tersebut.
Saat itu, seorang guru langsung menginstruksikan siswa untuk tidak melanjutkan memakan lauk ikan tersebut.
“Stop nak, jangan makan ikannya lagi. Silakan makan nasi saja dengan tempe sambal gorengnya,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian siswa yang melanjutkan makan hanya dengan nasi dan tempe tidak mengalami keluhan.
“Ada sebagian yang makan habis nasi dengan tempe tidak ada masalah. Kita juga instruksikan kepada siswa untuk tidak memakan ikannya lagi. Kayaknya di ikannya,” jelasnya.
Terpisah, dokter jaga IGD Rumkit Kesdam, dr. Armahamsyi yang bertugas Kamis (29/10) membenarkan adanya pasien yang dibawa menggunakan ambulans.
“Pasien dibawa dengan ambulans. Hanya saja terkait kronologisnya saya tidak tahu,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi pasien saat diterima tidak menunjukkan tanda-tanda kegawatdaruratan.
“Paling hanya mual, di bagian mulut ada bengkak memang, namun sudah sempat diatasi sebelumnya,” tambahnya.
Saat masuk IGD, pihaknya melakukan observasi terlebih dahulu untuk memastikan gejala kedaruratan.
“Saat masuk IGD kita melakukan observasi terlebih dahulu. Kita harus tahu gejala tanda-tanda emergency seperti apa, kapan kita rawat dan kapan kita rawat jalan,” jelasnya.
Untuk gejala yang dialami pasien, pihaknya mengkategorikan masih ringan dan akan diobservasi selama 1×24 jam.
“Untuk gejala-gejalanya dalam kategori ringan, cuma kita observasi dulu 1×24 jam. Apabila ada tanda-tanda emergency nanti tindakan lanjutnya diambil alih oleh DPJP langsung. Dari IGD tadi kita sudah memberikan penanganan, seperti pemberian oksigen karena pasien mengalami sesak dan obat-obatan yang suportif saja,” ujarnya.
Terkait dugaan keracunan, pihak medis belum bisa memastikan.
“Terkait kemungkinan keracunan, belum bisa dipastikan. Karena saya tidak ada di lokasi kejadian, bukan ranahnya di situ,” ucapnya.
Ia menyebut, jumlah pasien yang masuk pada awalnya berjumlah 10 orang, dengan rincian 5 orang dirawat inap dan 5 orang dirawat jalan, termasuk guru.
“Termasuk guru juga ada. Terkait gejalanya bukan kategori berat,” pungkasnya.
Sementara itu, bidang Urusan Pengamanan (Urpam) Rumkit Kesdam, Serka Nurhadi, menegaskan pihaknya tetap memberikan pelayanan maksimal kepada siapapun yang datang membutuhkan pertolongan.
“Mau siapapun yang datang tetap kami layani. Oh ini siapa dulu, ini tidak akan kami tanya. Begitupun terkait BPJS. Kita tetap tangani dulu siapapun yang membutuhkan pertolongan. Artinya kami tetap terlebih dahulu melayani siapapun yang datang membutuhkan pertolongan, tidak ada yang kita halang-halangi,” ungkap Nurhadi.
Termasuk jika ada pihak keluarga yang akan mengunjungi pasien sesuai jadwal berkunjung.
“Kita tidak akan menghambat siapapun, sesuai aturan yang dipatuhi,” katanya.
Nurhadi juga menjelaskan terkait hubungan dengan pers, prinsipnya semua diperlakukan sama.
“Prinsipnya sama, baik itu di militer, polisi, semuanya diperlakukan sama dalam kesetaraan, tidak ada yang dibeda-bedakan atau bersifat menghalang-halangi,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, media ini belum berhasil menghubungi instansi terkait di Pemko Banda Aceh untuk konfirmasi lebih lanjut. []






