“Sungguh luas dan besar musibah itu,” kata Safrizal.
Ada yang lebih besar dan lebih penting ketimbang angka-angka. Di dalam bencana ini, ada manusia yang menjadi korban utama. Itulah yang membuat Safrizal segera terbang ke Aceh pada 29 November 2025. Saat bencana terjadi, saluran komunikasi putus. Listrik padam, informasi sangat minim. Dia yang sedang di Tapanuli Utara untuk kepentingan penanganan banjir bandang, segera terbang malam dengan Cessna ke Aceh melalui Bandara Silangit.
Tiba di Aceh, Safrizal trenyuh. Rasa-rasanya kakinya tidak kuat lagi berdiri. Ia melihat rakyat di dalam lumpur, menyatu sama lain dalam mahaduka.
Seiring bulan berjalan, ketika dirinya ditunjuk sebagai Kaposko Wilayah PRR, dirinya tidak menolak. Ia langsung menyatakan siap, karena itulah kesempatan besar untuk membantu Aceh secara lebih besar.
Sejak saat itu, dia menetap hampir penuh di lokasi bencana dan terjun ke titik-titik bencana, memastikan proses tanggap darurat berjalan dengan baik. Ia membangun koordinasi dengan lintas instansi, memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana penanganan darurat.
Kementerian/Lembaga, TNI, Polri, BUMN, Pemerintah Daerah, swasta, dan kelompok masyarakat hingga individu menyatu dalam satu misi: membantu semaksimal mungkin supaya derita korban bencana dapat berkurang.
Pembangunan Kembali Aceh Masa Transisi
Pembangunan/pembenahan ruas jalan nasional langsung dilakukan sejak 25 Januari 2026. Alhamdulillah, saat ini 46 ruas jalan nasional telah mencapai fungsionalitas 100 persen. Demikian juga 23 unit jembatan nasional yang rusak sebagian atau rusak total kini juga telah 100 persen fungsional.






