Apresiasi Pengungkapan Pabrik Sabu 1,2 Ton di Pidie, Ampon Bram: Bukti Keseriusan Kapolri Perang Lawan Narkoba

Suasana konferensi pers Anggota Komisi III DPR RI, H. T. Ibrahim, terkait penggerebekan pabrik sabu terbesar di Aceh di Sigli, yang digelar di Morden Coffee Pango, Jl. Prof. Ali Hasyimi, Banda Aceh, Rabu (28/10/2026) | hendra

“Terbongkarnya pabrik narkoba terbesar di Aceh dengan barang bukti 1,2 ton sabu cair ini luar biasa. Ini menunjukkan selama ini lemahnya sinergi dan dukungan antar lembaga, sehingga ada celah bagi orang asing masuk dan leluasa mengoperasikan pabrik sabu di Aceh,” ungkapnya.

Aceh Jadi Target Jaringan Internasional

Ampon Bram menilai, Aceh yang memiliki garis pantai terpanjang dan posisi geografis yang strategis kerap menjadi pintu masuk jaringan narkotika internasional. Modus operandi dengan mendirikan pabrik di pedalaman seperti di Sigli menunjukkan jaringan ini sudah sangat berani dan terorganisir.

“Kalau pabriknya sudah di dalam, artinya mereka sudah merasa aman. Ini tidak bisa dibiarkan. Kurangnya sinergi membuat mereka berjalan sendiri-sendiri, sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang asing,” tegasnya.

Ia mendesak agar ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan orang asing dan penguatan intelijen di daerah-daerah rawan.

Beda Kewenangan BNN dan Polda

Sementara itu, Kepala BNN Provinsi Aceh Brigjen. Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si, menjelaskan adanya perbedaan kewenangan antara BNN dan Polda dalam penanganan kasus narkotika.

Menurutnya, BNN secara tupoksi memang hanya fokus pada penangkapan dan pemberantasan narkotika murni. Sementara Polda Aceh memiliki kewenangan yang lebih luas, termasuk penindakan terhadap peredaran obat-obatan terlarang di luar narkotika seperti psikotropika dan tramadol (anadol) yang saat ini marak disalahgunakan di kalangan remaja.

“Sinergi ini yang terus kita bangun. BNN dan Polda tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” ujar Brigjen Dedy.

Pos terkait