Ia juga mengingatkan agar tidak ada lagi pola kerja yang berjalan sendiri-sendiri antar cabor.
“Jangan sampai atletnya siap, tetapi administrasinya bermasalah. Jangan sampai pelatihnya siap, tetapi programnya tidak terukur. Dan jangan sampai target medali sudah ditetapkan, tetapi persiapannya baru dilakukan menjelang pertandingan. Persiapan untuk PORA harus dimulai dari sekarang,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan Banda Aceh di PORA XV bukanlah keberhasilan ketua umum atau pengurus semata, melainkan keberhasilan bersama seluruh cabor.
“Kota Banda Aceh memiliki potensi atlet yang luar biasa. Tugas kita adalah bagaimana potensi tersebut kita bina menjadi prestasi. Kita harus memberikan ruang kepada atlet-atlet muda untuk berkembang,” tambahnya.
Sementara itu, Staf Ahli Wali Kota Banda Aceh Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Said Fauzan, yang mewakili Wali Kota Banda Aceh menegaskan bahwa olahraga bukan sekadar soal prestasi, melainkan wadah pembentukan karakter generasi muda.
“Bagaimana anak-anak kita di olahraga belajar disiplin, bekerja keras, mengenal aturan, serta memupuk jiwa ksatria, bagaimana menyikapi kemenangan dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Oleh karena itu, berbicara tentang olahraga, kita berbicara tentang masa depan generasi muda Banda Aceh,” kata Said.
Dalam kesempatan itu, Said menekankan perlunya memperkuat sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Kita perlu memperkuat sistem. Mengingat sejarah, Banda Aceh tidak pernah kekurangan generasi muda yang berbakat. Sehingga perlu pembinaan yang berkelanjutan mulai dari usia dini hingga peningkatan kualitas pelatih,” ujarnya.






