Selain pemulihan, Tuanku Muhammad juga mendesak penguatan sistem pengamanan. Ia mendorong pemasangan CCTV di titik strategis, peningkatan penerangan, patroli rutin petugas, hingga evaluasi sistem pengawasan aset daerah.
“Jangan hanya memperbaiki setelah hilang, tetapi bangun sistem yang mampu mencegah pencurian sejak awal. Lebih baik pemerintah berinvestasi pada sistem pengamanan daripada terus mengeluarkan anggaran untuk mengganti fasilitas yang hilang,” ujarnya.
Sebagai Wakil Ketua Komisi III, Tuanku Muhammad menegaskan pihaknya akan mengawal persoalan ini agar menjadi perhatian serius Pemko Banda Aceh. Ia berharap perbaikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi diikuti kebijakan yang melindungi seluruh aset publik secara berkelanjutan.
Ia juga mengajak masyarakat ikut menjaga fasilitas umum sebagai tanggung jawab bersama.
“Kalau kita ingin Banda Aceh menjadi kota yang nyaman, maju, dan ramah anak, maka menjaga fasilitas publik harus menjadi budaya bersama. Jangan biarkan segelintir orang merusak kenyamanan ribuan warga yang setiap hari memanfaatkan taman ini,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Tuanku Muhammad berharap Taman Meuraxa segera kembali menjadi ruang publik yang aman, lengkap, dan nyaman sehingga menjadi kebanggaan warga Kota Banda Aceh.
“Taman kota bukan sekadar ruang terbuka hijau, tetapi simbol kepedulian pemerintah terhadap kualitas hidup warganya. Karena itu, Taman Meuraxa harus dijaga bersama dan tidak boleh terus menjadi korban pencurian berulang,” tutupnya.






