Balutan Pakaian Adat, Serune Kale, dan Jamuan Khas Aceh Warnai Paripurna HUT Ke-821 Banda Aceh

Foto humas.

Nuansa adat dan budaya Aceh kental terasa sepanjang sidang. Dalam pidatonya, Irwansyah menegaskan momentum HUT ini tidak terpisahkan dari kegemilangan Kesultanan Aceh Darussalam. “Peringatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan meneguhkan kesadaran bahwa kejayaan sejarah merupakan cermin sekaligus pijakan. Dari sini kita memikul tanggung jawab mengisi, membangun, dan mengelola kota berlandaskan visi, integritas, dan komitmen berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menyebut usia 821 tahun bukan sekadar hitungan waktu, melainkan jejak ketangguhan, keimanan, dan peradaban yang tak pernah padam. “Dari pelabuhan samudra yang menghubungkan tiga benua hingga bangkit dari reruntuhan bencana, Banda Aceh terus menegaskan jati dirinya sebagai kota yang bertumpu pada daya tahan dan martabat. Sejarah ini mandat yang menuntut tanggung jawab,” tegas Irwansyah.

Sementara itu, Wali Kota Illiza Saaduddin Djamal menyampaikan milad ini menjadi momentum memastikan pembangunan menyentuh kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan setiap langkah pemerintah harus memberi dampak nyata.

“Stabilitas ekonomi terus kami jaga lewat operasi pasar dan pengendalian harga agar daya beli masyarakat terjaga. Kepedulian sosial juga kami perkuat, bukan sekadar program, tetapi bentuk kehadiran pemerintah agar tidak ada warga tertinggal. Layanan kesehatan dan pendidikan terus kami dekatkan agar hak dasar masyarakat diakses lebih mudah dan merata,” kata Illiza.

Acara ditutup dengan jamuan makan bersama. Seluruh undangan dihidangkan menu khas Aceh seperti kuah beulangong, ayam masak Aceh, ayam tangkap, hingga boh itek asin. []

Pos terkait