Panglima Yatim Usulkan Sekolah Penerbang di Aceh, Danlanud SIM: TNI AU Siap Bantu Jika Pemerintah Setuju

Panglima Yatim, Rafiq, saat menyerahkan cinderamata berupa lukisan Pahlawan Nasional dari Aceh, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yang diterima langsung oleh Danlanud SIM, Kolonel Pnb Suryo Anggoro, M.Tr. (Han), saat menyampaikan usulan pendirian Sekolah Penerbang di Aceh, Selasa (13/10) | ist

Usulan disampaikan lewat surat terbuka dan kunjungan silaturahmi ke Mako Lanud Sultan Iskandar Muda

ACEH BESAR – Panglima Yatim, Rafiq, mengusulkan pendirian Sekolah Penerbang di Aceh. Usulan itu disampaikan melalui surat terbuka sekaligus kunjungan silaturahmi ke Markas Komando Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Selasa (13/10).

Dalam pertemuan tersebut, Rafiq diterima langsung oleh Komandan Lanud SIM, Kolonel Pnb Suryo Anggoro, M.Tr. (Han).

Rafiq mengatakan, kehadiran sekolah penerbang merupakan investasi pendidikan jangka panjang bagi generasi muda Aceh. Ia juga menyampaikan harapan dan dukungan moral, khususnya dari jajaran Angkatan Udara.

Menanggapi usulan tersebut, Danlanud SIM menyambut baik dan menyatakan kesiapan TNI AU untuk membantu, apabila Pemerintah Aceh menyetujui dan seluruh persyaratan terpenuhi. Di antaranya legalitas penyelenggara dan sertifikasi sekolah yang harus memenuhi ketentuan CASR (Civil Aviation Safety Regulations) melalui Kementerian Perhubungan.

Peluang Strategis bagi Aceh

Sekolah penerbang sipil dinilai berpotensi membuka pendidikan vokasi baru, menyerap tenaga kerja terampil, serta mengembangkan jasa perawatan pesawat dan usaha penunjang penerbangan lainnya.

Posisi Aceh yang berada di ujung barat Indonesia juga membuka peluang menjangkau pasar pendidikan penerbangan yang lebih luas.

Potensi lokasi dinilai memungkinkan. Aceh memiliki empat bandara, yaitu Bandara Sultan Iskandar Muda dengan landasan pacu 3.000 x 45 meter, Bandara Cut Nyak Dhien 1.800 x 30 meter, Bandara Malikussaleh 1.850 x 30 meter, dan Bandara Rembele 2.250 x 30 meter.

Pos terkait