Pada sesi kelas, peserta dibagi dalam bidang Pertanian dan Perkebunan serta Fashion. Mereka juga diperkenalkan dengan beragam sektor ekonomi kreatif, seperti kopi, minyak nilam, fesyen, musik, fotografi, podcast digital, desain kemasan produk, teknologi tepat guna, greenhouse hingga budidaya perikanan sistem bioflok.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengubah cara pandang peserta, potensi daerah tidak hanya dilihat sebagai sumber daya, tetapi sebagai bahan baku untuk menciptakan produk dan nilai ekonomi.
Kolaborasi JASA Aceh Besar dan Muda Seudang Banda Aceh menjadi kekuatan utama program ini. Dua kelompok pemuda dipertemukan untuk membangun kapasitas, memperluas jejaring, dan membuka peluang kolaborasi usaha.
Program ini juga memberi perhatian khusus kepada pemuda dari keluarga korban konflik Aceh. Penguatan kewirausahaan diharapkan membuka ruang bagi mereka untuk meningkatkan kompetensi sekaligus membangun kemandirian ekonomi.
Dalam rancangan program, pemuda ditempatkan sebagai agen perubahan, agen pembangunan, dan agen kontrol sosial. Karena itu, kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, kreativitas, kemampuan berpikir kritis dan adaptasi menjadi bagian penting dari pembinaan.
Ketua Yayasan Indikata Asa Nusantara selaku penyelenggara, Hasbuna Habibi, menilai penguatan kewirausahaan pemuda perlu diarahkan pada aksi nyata.
“Pemuda jangan hanya menjadi penerima program. Mereka harus didorong menjadi pelaku yang mampu menciptakan gagasan, mengembangkan usaha dan membuka peluang ekonomi dari potensi yang ada di daerah,” ujar Hasbuna.






