Irwansyah menambahkan harapan besar ini tidak akan pernah mewujud jika kita membangunnya di atas fondasi saling menyalahkan. Kita harus berdiri di atas kedewasaan berpikir dan kejujuran nurani, mengakui bahwa pekerjaan rumah kota ini masih terbentang luas dan membutuhkan waktu serta proses untuk diselesaikan secara tuntas.
Oleh karena itu, yang kita butuhkan hari ini bukanlah sekat pemisah, melainkan sebuah kolaborasi yang solid, kokoh, dan berkesinambungan. Hanya dengan kemitraan yang kuat antara legislatif dan eksekutif, kita akan mampu mengurai dan menyelesaikan berbagai persoalan krusial kota—mulai dari akselerasi pembangunan infrastruktur yang merata, hingga penanganan penyakit sosial yang mengancam generasi kita, seperti peredaran narkoba, tingginya angka perceraian, serta penyebaran HIV/AIDS.
“Tanggung jawab besar ini terlalu berat jika hanya dibebankan pada pundak pemerintah kota semata. Ini adalah panggung pembuktian tanggung jawab kolektif kita bersama. Dalam kaitan ini, DPRK mendorong agar peran gampong benar-benar diperkuat. Gampong harus diletakkan sebagai garda terdepan; menjadi benteng utama dalam menjaga kebersihan lingkungan, membina akhlak dan Moralitas warga, sekaligus menutup rapat- rapat ruang gerak berkembangnya patologi sosial di tengah Masyarakat,” ujarnya
“Di sisi lain, mari kita arahkan pandangan kita pada potensi besar yang dianugerahkan kepada kota ini. Banda aceh memiliki modalitas yang sangat kuat sebagai kota wisata. Potensi ini menuntut kreativitas dan komitmen kita untuk terus dikembangkan secara integrative,” tambahnya.






