Angka Pengidapnya Tinggi, Ketua DPRK Usul Dibentuknya Komite Penanggulangan AIDS Banda Aceh

Audiensi tim ADINKES Aceh terkait percepatan penanggulangan AIDS/HIV , Tuberkulosis dan Malaria (ATM) agar tercapai target global Eliminasi ATM Tahun 2030 di Ruang Rapat Pimpinan DPRK Banda Aceh. Senin, (27/07/2026). Dok Humas DPRK Banda Aceh/ Riza Azhari.

Perwakilan Adinkes Aceh, Media Yulizar, menjelaskan saat ini, Adinkes memfokuskan program pada penanganan HIV/AIDS, TBC, dan malaria. Namun, dalam tahap awal, kegiatan lebih diprioritaskan pada HIV/AIDS dan TBC melalui sosialisasi, edukasi, kampanye pencegahan, serta penggalangan dukungan dari berbagai pihak.

Pengurus Adinkes Aceh, dr Rayhan yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, menyampaikan bahwa kondisi HIV/AIDS di Banda Aceh sudah berada pada kategori mengkhawatirkan. Sejak 2008 hingga saat ini tercatat sebanyak 918 kasus HIV/AIDS di Banda Aceh.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 226 orang merupakan warga ber-KTP Banda Aceh, sedangkan sisanya berasal dari daerah lain namun berdomisili atau menjalani pengobatan di Banda Aceh.
Saat ini terdapat 21 layanan pengobatan HIV/AIDS di Banda Aceh, dari total 115 layanan yang tersedia di seluruh Aceh, di antaranya RSUD dr. Zainoel Abidin, Rumah Sakit Umum Meuraxa, Puskesmas Meuraxa dan lainnya.

Dr Rayhan juga mengungkapkan bahwa sebanyak 140 pasien HIV/AIDS telah meninggal dunia. Sementara sejak Januari hingga akhir Juli 2026, tercatat 43 kasus baru HIV/AIDS di Banda Aceh. Menurutnya, salah satu faktor risiko terbesar berasal dari hubungan seksual sesama laki-laki (MSM).

Selain HIV/AIDS, Adinkes juga menyoroti tingginya kasus TBC di Banda Aceh. Menurut Media Yulizar, TBC merupakan penyakit menular yang harus mendapat perhatian serius. Apabila terdapat satu penderita TBC dalam satu rumah, maka seluruh anggota keluarga perlu menjalani pemeriksaan dan pengobatan sesuai ketentuan agar penularan dapat dicegah. “Jika dalam satu rumah ada 5, 1 positig TBC, maka 4 lainnya juga ars minum obat,”ujarnya.

Pos terkait