Delky menegaskan, jika Pj Gubernur memang serius untuk memajukan perekonomian Aceh, maka salah satu hal yang perlu direformasi adalah organ yang berkaitan dengan pembiayaan yakni perbankannya. “Jika kebijakan berani tersebut tidak dilakukan, maka pertumbuhan dunia usaha dan produktivitas pengelolaan sektor ekonomi riil akan sulit ditingkatkan. Jangan sampai BAS yang seharusnya jadi kebanggaan rakyat Aceh justru hanya jadi alat untuk menjerat PNS dengan kredit konsuftifnya dan mensupport kontraktor besar yang dekat kekuasaan dengan pembiayaannya. Intinya rakyat dan pengusaha kecil akan terus menerus kesulitan dalam hal pembiayaan dan endingnya pertumbuhan ekonomi Aceh hanya bergantung pada perputaran APBA. Sehingga ketika otsus Aceh berakhir, ekonomi Aceh masih sulit bangkit alhasil stabilitas dan konflik akan menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Untuk itu BAS juga memiliki tanggung jawab untuk mendongkrak dan menjaga stabilitas ekonomi Aceh melalui pembiayaannya, jika tidak ya hapus saja suntikan modal dari APBA dan APBK atau pemerintah daerah sah-sah saja menarik modal sahamnya dan ditempatkan ke perbankan yang lebih berguna untuk membantu pemerintah mendorong perekonomian rakyatnya,” tegas Delky.
Pos terkait
Ribuan Warga Padati Milad PKS ke-24 di Taman Putroe Phang, Tegaskan Dekat dengan Rakyat
Aset Rp460 T, BSI Jadi Top 5 Bank RI: Peran Syariah Dorong Ekonomi Aceh Dibahas di Media Gathering
Satu Dekade Trans Kutaraja, Pemerintah Aceh: Transportasi Gratis Akan Terus Berlanjut
Mahasiswa Tolak Dialog saat Unjukrasa Protes Pergub JKA, Pemerintah Aceh: Kami Siap Dengarkan
Masuk Daftar Forbes 2026, Bank Aceh Jadi 1 dari 3 BPD Terbaik di Indonesia
HUT IBI ke-75, BKKBN Aceh dan IBI Gelar Pelayanan KB Gratis di RSIA Pemerintah Aceh






