Kegiatan ini mencakup lima kabupaten seluas 4.393 hektare. Progres konstruksi yang dilaksanakan kelompok tani bersama TNI telah mencapai 3.981 hektare. Di sektor irigasi, Pemerintah Aceh membangun berbagai infrastruktur pendukung.
Irigasi perpompaan direncanakan 641 unit di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98.073.000.000. Saat ini, 70 unit atau 3,49 persen sedang dikerjakan, sisanya masih dalam proses administrasi dan perencanaan.
Sementara itu, pembangunan irigasi perpipaan di 13 kabupaten/kota sebanyak 149 unit dengan anggaran Rp14.006.000.000 telah mencapai progres 24 persen.
Adapun pembangunan bangunan konservasi sebanyak 45 unit dengan anggaran Rp5.400.000.000 masih tahap persiapan. Untuk jaringan irigasi tersier, dari 300 unit yang direncanakan dengan anggaran Rp30.000.000.000, baru 8 persen dalam tahap pengerjaan.
Selain itu, pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) sebanyak 106 unit dengan anggaran Rp11.660.000.000 juga masih tahap awal dengan progres 8 persen.
M. Nasir menegaskan, Pemerintah Aceh terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, serta pihak terkait guna memastikan seluruh program berjalan sesuai target.
“Kami optimistis, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, TNI, dan masyarakat, seluruh program ini dapat diselesaikan tepat waktu, sehingga lahan pertanian terdampak bencana dapat kembali dimanfaatkan secara optimal oleh petani,” pungkasnya.
Pemerintah Aceh berharap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi ini tidak hanya memulihkan kondisi lahan, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian serta kesejahteraan petani di seluruh wilayah terdampak. []






