JAKARTA – Layanan gadai emas PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) tumbuh 100% dalam enam bulan terakhir. Per Juni 2026 outstanding gadai emas BSI tembus Rp13 triliun, seiring meningkatnya kebutuhan dana tunai masyarakat menjelang tahun ajaran baru.
Kenaikan ini menunjukkan kesadaran masyarakat memanfaatkan emas sebagai likuiditas cepat tanpa harus menjual aset.
Mayoritas nasabah gadai emas BSI adalah ibu rumah tangga. Fasilitas ini banyak digunakan untuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan mendesak lain.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna menyebut minat tinggi ke gadai emas bukti emas tak hanya jadi investasi, tapi juga solusi keuangan. “Keunggulannya proses mudah dan cepat, taksiran tinggi, biaya murah, plus layanan digital via aplikasi BYOND. Nasabah bisa reservasi, simulasi, sampai perpanjang gadai dari HP,” ujarnya.
BSI membangun ekosistem emas lengkap dari hulu ke hilir: BSI Emas untuk beli, cicil emas, gadai emas, hingga transfer emas. Tujuannya agar masyarakat optimalkan kepemilikan emas, mulai dari cicil sampai cairkan dana saat butuh tanpa jual aset.
“Emas punya nilai intrinsik kuat dan terbukti jaga nilai aset jangka panjang,” kata Anton.
Sepanjang semester I 2026, transaksi gadai emas BSI rata-rata 120.000 transaksi per bulan. Produk ini dipilih karena cepat, aman, dan nasabah tetap punya potensi kenaikan harga emas di masa depan.
Penguatan gadai emas bagian dari strategi BSI membangun closed-loop ecosystem emas nasional. “Kami terus perkuat rantai layanan emas agar ekosistem BSI makin kompetitif,” tambah Anton.






