Sementara itu, Sekretaris Perwakilan BKKBN Aceh, Ihya, S.E., M.M., memaparkan capaian kinerja program menunjukkan tren positif. Pelaporan fasilitas kesehatan secara umum telah melampaui 90 persen di seluruh lini layanan.
Namun, beberapa indikator strategis masih perlu penguatan, terutama pelayanan KB baru, KB pasca persalinan, dan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). “Capaian hari ini hasil kerja kolektif. Ini bukan titik akhir, melainkan pijakan untuk intervensi yang lebih tepat sasaran, terutama di wilayah dengan capaian masih rendah,” ujarnya.
Data evaluasi menunjukkan meski pelaporan dan partisipasi program relatif tinggi, masih terdapat disparitas antarwilayah yang menjadi fokus intervensi 2026. Program pembangunan keluarga seperti BKB, BKR, BKL, UPPKA, dan pemanfaatan aplikasi ELSIMIL juga terus diperkuat sebagai strategi hulu menekan stunting dan meningkatkan kualitas keluarga.
Melalui Pra-Rakorda, BKKBN Aceh menegaskan penguatan program prioritas nasional seperti Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), dan Lansia Berdaya (SIDAYA). Program ini dijalankan lewat kolaborasi dengan TP-PKK, Kementerian Agama, serta mitra strategis lain.
“Keberhasilan program tidak hanya ditentukan capaian angka, tetapi juga konsistensi implementasi, kualitas layanan, dan kekuatan kolaborasi lintas sektor dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat,” tutup Safrina. []






