Suatu ketika, Putri harus menangani pasien kategori ringan yang tiba-tiba mengalami perburukan kondisi. Pasien tersebut berada di lantai atas, sementara Instalasi Gawat Darurat (IGD) berada di lantai bawah.
“Saya harus berlari dengan APD lengkap menuruni empat lantai untuk membawa pasien ke IGD. Itu sangat melelahkan, tetapi saya hanya fokus pada keselamatan pasien,” tuturnya.
Usai mengabdikan diri di Wisma Atlet, Putri kembali menjadi relawan di Yayasan Tunas Bhakti Nusantara, sebuah organisasi non-profit. Bersama timnya, ia bertugas dalam program vaksinasi “Vaksin Merdeka” yang digagas Polres Metro Bekasi.
Di sanalah ia mulai banyak berinteraksi dengan anggota Polri, termasuk para kapolsek dan kapolres. Dari pengalaman itu, ia melihat bahwa tugas kepolisian tidak hanya terbatas pada pengaturan lalu lintas atau penegakan hukum, tetapi juga memiliki peran besar dalam bidang kesehatan dan sosial.
“Saya melihat langsung bagaimana Polri turun tangan dalam program vaksinasi, sesuatu yang seharusnya menjadi tugas tenaga kesehatan. Dari situ saya mulai tertarik. Menjadi dokter polisi berarti saya bisa tetap menjalankan profesi medis sambil lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat,” ungkapnya.
Kini, Putri bersyukur bisa lolos seleksi dan menjalani pendidikan SIPSS Gelombang I tahun 2025 yang resmi dibuka pada Kamis (6/3/2025). Keinginannya ke depan adalah kembali bertugas di tanah kelahirannya, Papua.
“Di Papua, tenaga kesehatan memang ada, tetapi penyebarannya belum merata. Saya ingin mengabdi dan membantu meningkatkan layanan kesehatan di sana,” pungkasnya. ***






