Dari para akademisi inilah saya merekam budaya Jepang. Jadi bukan dari buku-buku, melainkan dari persahabatan secara langsung.
Pernah suatu kali pada tahun 2015, ketika saya sedang memulai kuliah pada pagi yang sedang badai salju, terdengar ketukan pelan di pintu kelas. Semua peserta kelas terperanjat. Kaget. Karena tak biasanya ada yang terlambat hadir.
Setelah saya membuka pintu, “come in” kata saya yang disambut oleh mahasiswi Jepang dengan berkali-kali membungkuk seraya berucap “I am so sorry sir, I am so sorry sir”.
Mahasiswi ini merasa sangat bersalah dan seakan telah melakukan dosa besar karena masuk kelas saat dosennya memulai kuliah.
Gestur tubuhnya yang membungkuk-bungkuk dengan wajah memelas ketakutan menjadi pelajaran bagi saya soal kedisiplinan waktu para mahasiswi Jepang.
Beda sekali dengan ketepatan waktu pada mahasiswa kita ? Yang tak merasa bersalah, apalagi merasa berdosa saat terlambat masuk kelas. Ini pelajaran pertama yang saya rekam dari budaya Jepang.
Padahal dalam ajaran Islam, berkali-kali ditegaskan agar kita disiplin waktu dengan berbagai sebutan, misalnya, demi masa, demi waktu malam, dan lain-lain yang menegaskan pentingnya kita menjaga waktu agar tidak merugi atau celaka. Tapi apa faktanya, banyak mahasiswa kita yang menyia-nyiakan waktu. Sehingga tidak produktif.
Pelajaran kedua yang saya rekam dalam ingatan adalah orang-orang Jepang menulis secara rinci setiap program dan pekerjaan yang direncanakan.
Misalnya, pertemuan kolaborasi kami ini dari tanggal 15 — 19 Januari 2025 sudah dicatat secara mendetil sekali dari hari ke hari hingga jam ke jam sejak 6 bulan lalu.






