APJN.NET- BANDA ACEH– Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Farid Nyak Umar, mengatakan kebijakan pemerintah pusat melalui PT Pertamina (Persero) yang kembali menaikkan harga gas LPG nonsubsidi akan memberikan multiefek terhadap kenaikan barang-barang yang lain. Kondisi ini tentunya akan semakin menyulitkan masyarakat yang selama ini sudah sangat kewalahan menghadapi langkanya minyak goreng di pasaran.
Hal ini disampaikan Farid menyikapi keluhan masyarakat Banda Aceh akibat melambungnya harga gas LPG yang semakin membebani warga menjelang bulan Ramadhan, Rabu (16/3/2022).
“Terhitung sejak November 2021 hingga Februari 2022, PT Pertamina (Persero) sudah tiga kali menaikkan harga LPG nonsubsidi untuk gas tabung ukuran 5,5 kg dan 12 kg. Oleh karena itu, kami menyampaikan keluhan masyarakat bahwa mereka sangat diberatkan dengan kenaikan LPG nonsubsidi, terutama bagi warga yang memiliki usaha-usaha kecil yang membutuhkan konsumsi gas tinggi,” kata Farid Nyak Umar.
PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) pada 27 Februari 2022 telah menaikkan harga gas LPG nonsubsidi dengan harga yang berbeda-beda di tiap wilayah. Untuk Aceh, harga jual gas LPG 5,5 kg ditetapkan sebesar Rp91.000 dan yang 12 Kg menjadi Rp189.000.
Namun, berdasarkan pantauan Farid Nyak Umar di sepuluh titik penjualan gas di Banda Aceh seperti di ritel modern, swalayan, dan toko kelontong yang tersebar di sejumlah titik, seperti Kawasan Ulee Kareng (Jl. Kebun Raja, dan Simpang 7), Kuta Alam (Jl. Syiah Kuala, Jl. P. Nyak Makam dan Lampriet, Bandar Baru) dan Syiah Kuala (kawasan Peurada), Minggu (13/3/2022), Farid mengatakan adanya perbedaan harga jual LPG nonsubsidi.






