Stunting Aceh Turun, Tapi Masih Butuh Intervensi Tepat Sasaran
Provinsi Aceh masih menghadapi tantangan penurunan stunting. Meski tren menunjukkan penurunan, prevalensi stunting masih relatif tinggi dibanding target nasional. Intervensi perlu diperkuat dari sisi cakupan, kualitas, dan ketepatan sasaran.
Penyebab stunting antara lain kurang asupan gizi, rendahnya akses layanan kesehatan, pola asuh belum optimal, sanitasi dan lingkungan kurang memadai, serta faktor sosial ekonomi dan pendidikan.
Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim, S.K.M., M.Kes., menegaskan Rakorda menjadi forum strategis untuk menyatukan persepsi, menyelaraskan kebijakan, dan merumuskan langkah konkret di lapangan. “Rakorda ini penting untuk evaluasi, perkuat komitmen, serta susun rencana tindak lanjut yang efektif dan berkelanjutan,” tegas Safrina.
Staf Ahli Gubernur Aceh, Almuniza Kamal, S.STP., M.Si., menambahkan, Rakorda juga jadi wadah mengidentifikasi kendala lapangan dan merumuskan perbaikan tepat sasaran. Hal ini sejalan dengan SE Gubernur Aceh Nomor 400.13/2931 tentang Pemanfaatan Data Keluarga Risiko Stunting untuk percepatan pencegahan stunting dan pemenuhan gizi tepat sasaran.
Apresiasi Daerah dan Rangkaian Kegiatan
Pada Rakorda, BKKBN Aceh memberi apresiasi kepada kabupaten/kota dan mitra kerja atas capaian Program Bangga Kencana 2025 berdasarkan 52 indikator penilaian. Juara Umum diraih Kabupaten Bener Meriah, Juara II Kabupaten Aceh Besar, dan Juara III bersama diraih Kabupaten Aceh Tengah, Pidie, dan Kota Banda Aceh.






