Pagi itu ia mentraktir semua pengunjung, sebuah gestur sederhana untuk menjaga hangatnya sesama. Namun ketegangan tiba-tiba mengeras ketika tiga pemuda memukul meja.
“Nyoe bek hitong baweo kedrou,” hardik mereka. Tapi kemarahan itu ternyata bukan tentang harga kopi—melainkan tentang beratnya perjuangan yang tak kunjung selesai.
Lalu datang hari-hari ketika massa SIRA dan RAKAN menerobos Banda Aceh lewat jalur laut. Ratusan perahu kecil menabrak ketakutan dan larangan, merapat ke Krueng Aceh.
Bustamam dan beberapa wartawan lain merekam detik-detik yang nyaris berubah menjadi tragedi, saat aparat bersenjata sudah siap di garis pantai. “Kalau baku tembak pecah, mungkin kami hanya nama di halaman obituari,” ujar Mukhtaruddin kemudian.
Tapi hari itu mereka selamat bukan karena pelindung tubuh, tapi karena takdir dan keberanian. Di malam lain, di Anjong Mon Mata, ia menyelinap ke sela-sela acara makan malam resmi, menembus pagar ajudan, dan meraih mikrofon ke arah Menko Polhukam Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia tak bertanya soal perang—setidaknya di awal. Ia bicara soal kesenian. Tapi dengan gesit, ia alihkan percakapan ke soal perdamaian. Dan malam itu, di tengah denting musik dan senyum diplomatik, ia mendapatkan kutipan eksklusif yang melampaui liputan biasa: sebuah celah kecil dari negara untuk mendengar suara damai.
Bustamam tahu, menjadi wartawan di medan konflik bukan hanya soal berita. Tapi soal memilih tetap menjadi manusia—di tengah absurditas kekerasan, di antara seruan takbir dan desing senjata.






