Bahan Buku: Risalah Jurnalis di Medan Konflik Aceh

Bustamam Ali • F/IST.

Antara Dentum Senjata dan Desau Kata: Jejak Bustamam Ali di Liputan Konflik Aceh

BANDA ACEH – Bustamam Ali bukan tentara. Ia tak membawa senjata, tak punya barikade untuk berlindung. Namun di tengah bara yang menyala selama lebih dari tiga dekade konflik di Aceh, ia justru memilih membawa kamera tua dan mikrofon—menghadang peluru dengan kata.

Ia wartawan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Dan di masa itu, menjadi wartawan di Aceh berarti menjadi saksi yang bisa setiap saat berubah menjadi korban.

Sore itu, dalam perjalanan pulang dari Meulaboh ke Banda Aceh, mobil operasional PWI yang ditumpanginya bersama dua jurnalis lain, Mukhtaruddin Yacob dan Syarbaini Oesman, melaju melintasi Aceh Jaya.

Seorang lelaki melambai di pinggir jalan. Mereka tak berhenti, mengira hanya penumpang biasa. Tapi beberapa kilometer kemudian, mobil mereka diadang.

Dengan suara keras, mereka diperintahkan turun dan digiring ke sebuah rumah tua di atas bukit. Di situlah Bustamam belajar bahwa batas antara nyawa dan maut sering kali hanya setipis kredibilitas.

Interogasi berlangsung tegang. Tapi nama seorang petinggi GAM yang disebutkan Mukhtaruddin akhirnya mencairkan suasana. Untuk menyamarkan pos pemeriksaan, di dekat mobil mereka diletakkan pompa angin, seolah hanya sedang mengisi ban. Panggung sandiwara perang memang kerap dibangun dari hal-hal remeh, dan para jurnalis pun menjadi aktor tanpa naskah.

Di Pidie, saat pembakaran sekolah kian marak, Bustamam pulang ke kampungnya di Desa Paru Keude. Di tengah pekat konflik, warung kopi tetap hidup.

Pos terkait