“Ini menjadi tantangan kita bersama, sebab pendidikan adalah fondasi utama bagi lahirnya wirausahawan muda yang berdaya saing. Hal tersebut menjadi tantangan karena tenaga kerja di Aceh banyak diisi oleh lulusan SMA sederajat (32,81 persen), sementara lulusan diploma atau sarjana yang terserap lapangan kerja persentasenya belum begitu besar (3,37 persen).
Oleh karena itu, sambung Plt Sekda, sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha harus terus diperkuat, dan terus mendorong lebih banyak pemuda Aceh untuk tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan.
“Di sinilah HIPMI memegang peranan penting dalam membentuk mentalitas entrepreneur sejak dini. Aceh memiliki berbagai potensi sektor unggulan yang siap digarap oleh pemuda, mulai dari pertanian, perikanan, pariwisata berbasis halal, ekonomi kreatif, hingga teknologi digital,” kata Plt Sekda berpromosi.
M Nasir mengungkapkan, pada 2023, Aceh mencatatkan 424.850 UMKM, mayoritas merupakan usaha mikro. Sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan sumbangan signifikan bagi perekonomian daerah.
“Aceh memiliki peluang besar dari bonus demografi, pada tahun 2025, 60 persen penduduk Aceh akan berada dalam usia produktif. Ini adalah waktu yang tepat bagi HIPMI untuk memperluas pengaruhnya, bukan hanya sebagai wadah pengusaha muda, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam membentuk ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” sebut M Nasir.
Plt Sekda menegaskan, selama ini Pemerintah Aceh terus berupaya memberikan dukungan, antara lain melalui program pelatihan kewirausahaan, bantuan peralatan usaha, fasilitasi sertifikasi halal dan produk, pendampingan manajerial, serta perluasan akses terhadap pembiayaan.






