Kunjungan Banleg DPRK Banda Aceh Ke Bener Meriah Lirik PAD Melalui Konsep Penghasilan Alamnya

Serahterima plakat dalam kunjungannya ke Bener Meriah/ Ist

APJN net – Banda Aceh | Sejumlah anggota Badan legislasi (Banleg) DPRK Banda Aceh melakukan kunjungan ke Kabupaten Bener Meriah, dalam rangka melihat perbandingan wisata alam dan konsep penghasilan yang diperoleh masyarakat Bener Meriah.

Hal tersebut disampaikan ketua Banleg DPRK Banda Aceh H Heri Julius, S.Sos, MM, kepada APJN.net, Medio Lalu di Banda Aceh.

Dalam kunjungannya, anggota Badan legislasi tersebut, sempat melirik beberapa tempat lokasi wisata serta beragam nilai rasa biji kopi yang dihasilkan oleh masyarakatnya.

“Hadir dalam kunjungannya tersebut seluruh anggota Banleg DPRK Badan serta instansi terkait, yakni Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh,” ujar Heri Julius.

Menurut Heri Julius, diketahui bersama bahwa kabupaten Bener Meriah termasuk merupakan daerah pariwisata, dikelilingi oleh pegunungan dengan cuaca dingin serta hasil alam berupa biji kopi yang merupakan mata pencarian masyarakat di sana.

Artinya kata Heri Julius, dengan wisata alam yang menarik disertai penghasilan kopinya tersebut secara otomatis Pendapatan Asli Daerah yang dihasilkan juga lumayan besar.

“Kalau kita di Kota Banda Aceh, merupakan daerah pesisir pantai, namun jika dikelola dengan baik juga bisa menghasilkan PAD yang besar. Seperti wilayah Alue Naga, dengan pantai wisata yang sangat menarik. Dimana masyarakat pada umumnya bermata pencarian nelayan. Paling tidak secara konsep pengelolaan manajerial yang mesti kita tingkatkan,” kata Heri Julius.

Selanjutnya, jika dilakukan persamaan kata Heri Julius, ya, saya pikir tidak mungkin bisa ketemu, karena di sana daerah pegunungan dominasi masyarakatnya bermata pencarian petani kopi karena iklim dan cuaca serta konsepsi alamnya yang berbeda.

Sedangkan Kota Banda Aceh merupakan wilayah pesisir pantai yang mana mata pencarian masyarakatnya cendrung nelayan. Sehingga jika dibandingkan dengan daerah Bener Meriah tak mungkin bisa dapat persamaannya.

Namun, paling tidak kata Heri Julius, kita hanya bisa dapat melihatnya dari sisi perbandingannya saja, yakni perbedaaan alam yang dihasilkan.

“Jika di sana kopi, ya paling tidak kita di Banda Aceh, hasil budi daya perikanan,” ujarnya.

Nah, di sana masyarakatnya lebih cenderung kepengelolaan kopi sesuai alam dan iklimnya.
Sementara kita di sini, paling tidak pengelolaan Ikan, Tiram, Kerang, dan sejenis ekosistem laut lainnya.

“Yang dihasilkan beda, namun sistem pengelolaannya yang perlu kita pahami,  baik dari sistim manajerial serta penataan pantai dan ekosistem yang ada,” ujarnya.

Jika kita tinjau dari wisata alamnya, Banda Aceh juga tidak kalah menarik dengan Bener Meriah, di sana wilayah pengunungan, sedangkan kita di sini wilayah pesisir dengan berbagai pantai yang indah.

Jika dipercantik, diperindah, dan di pugar dengan menarik bukan tidak mungkin Pendapatan Asli Daerah kita juga bisa meningkat.

“Seperti contoh wilayah Alue Naga, di jadikan sebagai wisata pantai indah sehingga minat wisatawan yang telah berkunjung ke Banda Aceh baik luar maupun lokal pasti akan kembali lagi sehingga tingkat perolehan Pendapatan Asli Daerah pasti akan terus meningkat. Apalagi konsep wisata yang kita tawarkan dan sajikan berupa konsep alami dan islami,” pungkas Sekjen Partai NasDem Kota Banda Aceh ini. []

Pos terkait