Kedua, dalam persiapan tampil atraksi sebagai hiburan setelah selesai upacara 17 san, mereka latihan 1 bulan penuh semangat walaupun cuaca hujan panas, tetapi saat hari penampilan tidak jadi tampil hanya karena jadwal di rubah terakhir yang mana tidak ada lagi penonton dan cuaca sudah panas terik.
Ketiga, kami kecewa anak-anak kami tidak tampil, dan tidak mungkin ditampilkan lagi kalau cuaca sudah panas, yang mana anak anak kami banyak yang masih usia dini. “Sepertinya terkesan adanya unsur ketidaksenangan dengan penampilan anak kami,” ujar salah satu orang tua murid karate.
Keempat, kami sengaja tidak mau tampil diakhir penampilan dari jadwal 4 acara, yang mana pada saat gladi, karate tampil pertama malah dibuat tampil terakhir dari empat acara (Tari Saman Paskibra, sesi foto Paskibra, Senam sehat, dan Karate).
“Dan hal tersebut sudah lari dari perencanaan gladi, apalagi kalau kami tampil terakhir penonton sudah bubar, kondisi cuaca sudah panas dan hal tersebut akan beresiko bagi anak-anak kami yg akan menampilkan atraksi Full Power dan kekuatan fisik, sementara itu pada saat gladi bersih, sesi foto Paskibra dan Senam sehat tidak masuk dalam rencana di gladi bersih,” ujar pelatih karate sdr Leo.
Kelima, pada saat kejadian pihak pelatih menanyakan ke panitia protokol kenapa berubah jadwal, namun di jawab dengan ketus dan nada tinggi oleh protokol. “Kalau mau protes ke pelatih Paskibra karena mereka yang merubah jadwal, lagian kalian bukan undangan yang diunggulkan.
Untuk itu, dengan adanya jawaban ketus dan nada tinggi tersebut menunjukkan sikap bukan seorang aparatur negara yang baik. Lagi pula sesi atraksi karate sudah terjadwal 1 bulan lalu dan menjadi ajang tampil setiap tahun di kecamatan.






