Bacalon Gub Aceh M Nazar: Tim Drafter Rancangan UUPA dan Otsus Aceh

Bacalon Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, dalam bincang-bincang kepada sejumlah Ceo Media pers dan wartawan, di Aula disalah satu Kafee di Banda Aceh, Rabu (24/7/2024) | Ist.

APJN.NET, BANDA ACEH- Mantan Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, kini maju mendaftarkan diri menjadi Bacalon Gubernur Aceh disejumlah partai Nasional maupun lokal.

Muhammad Nazar,  merupakan salah satu tim yang masuk bersama pemerintah daerah (Pemda) sebagai drafter dan tim pengawal rancangan undang undang pemerintah RI tentang pemerintahan Aceh yang sekarang ini dikenal UUPA atau Otonomi khusus (Otsus).

Hal tersebut disampaikan Muhammad Nazar, dalam bincang-bincangnya kepada sejumlah Ceo Media pers dan wartawan, di Aula disalah satu Kafee di Banda Aceh, Rabu (24/7/2024).

“Waktu itu kita mengusulkan agar pasal dalam undang undang terkait otonomi daerah itu tidak dibatasi waktunya, yakni tidak hanya sampai 20 tahun.

“Saya yang mengusulkan itu, dan waktu itu saya sempat Walk Out (WO), karena tak disetujui, setelah saya WO saya sempat di telpon Putro Malik yang sekarang ini Wali nanggroe.

“Dan waktu itu Putro Malik, sempat menyatakan tidak apa-apa mundur satu langkah. Artinya otonomi tersebut tetap terus diperpanjang karena Aceh sempat masuk sorotan internasional.

Pemerintah hanya memantau saja. Karena pada dasarnya keinganan rakyat Aceh pada saat ini kan pada dasarnya belum sepenuhnya juga terpenuhi. “Dan mereka (Pemerintah pusat) tahu itu,” ujar Nazar.

Malah kemarin itu, sambung Nazar lagi bahwa Partai SIRA, merupakan salah satu partai pendukung Anies, yang mensyaratkan wajib  pendukung Anies memperpanjang O tsus.

“Dan saya kira Prabowo pun akan memperpanjang Otsus itu. Karena itu merupakan tuntutan kita (masyarakat Aceh) atau nantinya dikhawatirkan bakalan akan ada resiko terjadi lagi, kan?

“Jadi saya pikir Otsus akan diperpanjang. Selain itu bahwa Aceh memiliki sumber daya alam yang baik.

Namun terlepas dari dana Otsus dan sumber daya alam Nazar, mengatakan kemandirian rakyat Aceh juga perlu diciptakan sumber daya manusia agar hasil alamnya lebih banyak lagi.

Waktu itu, saya sempat memanggil rektor USK Darni M Daud, dan rektor IAIN serta lainnya, terkait urusan pertambangan energi dan perniagaan dan gas.

“Waktu itu saya sampaikan bahwa beberapa tahun kedepan akan ada eksplorasi baru, seperti adanya migas.

“Itu kan dari masa kita dulu waktu memimpin Aceh (Wagub) bahwa dari masa kita itu sudah ada. Artinya waktu itu misi kita adalah benar dan memikirkan untuk masa Aceh ke depan .

“Dan ini lah yang saya maksudkan, bahwa menjadi seorang pemimpin itu harus berpikir ke masa depan, baik di pasar regional, nasional maupun internasional.

Bahkan saya dulu tidak mensyaratkan mahasiswa Aceh kita kirim keluar negeri sekolah untuk pulang ke Aceh. Namun kalaupun mereka mau bekerja keluar negeri jangan lupa berpikir untuk kepentingan Aceh.

“Jadi Aceh harus diciptakan walaupun ada tidaknya otsus harus diciptakan kuat secara ekonomi. Dan hal tersebut harus dapat dibuktikan dalam hal kepemimpinannya, baik kabupaten maupun provinsi, dengan didukung oleh nasional dan hal ini menjadi sangat penting.

Selanjutnya, kata Nazar dalam mendesaign ekonomi Aceh, sumber manusia juga menjadi dua hal pokok yang menentukan masa depan Aceh akan makmur atau tidak.

“Kita tidak perlu menjanjikan masyarakat Aceh baik itu secara perorangan, perKK , atau pun perkampung berupa anggaran miliaran rupiah.

Tetapi, kata Nazar yang terpenting bagaimana memfasilitasinya dalam bentuk yang lain supaya masyarakat Aceh bisa memperoleh kekayaan dan bisa mandiri.

“Bagaimana generasi muda Aceh, umur 40 sampai 30 tahun ke bawah sudah makmur dan kaya,” ucapnya.

Nazar menyebut, jangan sampai umur 70 tahun baru bisa terkumpul untuk naik haji. Sementara  kondisi tubuh sudah sakit sakitan, serta ketika kita pulang kampung melihat ada orang tua yang masih memopong rumput di pundaknya sebagai pakan lembu yang kadang sudah dua tahun dipeliharanya tidak bertambah-tambah, hanya 1 ekor.

Ironinya lagi, tambah Nazar terkadang juga tak memiliki rumah, dan hal-hal seperti ini yang juga yang harus dipikirkan sebagai seorang pemimpin. “Dan kita sudah merintis itu. Apalagi terkait apa yang kita sampaikan ini sudah kita lakukan,” paparnya.

Apalagi, jika berbicara keluar masuk penjara bahkan saya sudah berkali-kali merasakannya terhadap  bagaimana memperjuangkan Aceh agar ke depan bisa lebih baik.

Artinya, kata Nazar terhadap apa yang disampaikannya itu bukanlah isapan jempol atau  hayalan tetapi sudah dipikirkannya baik secara analisis maupun ilmiah. Karena itu juga sebagian pengalaman masa lalu yang juga sudah pernah terjadi dan dirasakannya. (*)

Pos terkait