Jalin Silaturahmi, Komunitas VES Atjeh Tanah Rencong VES Camp di Pantai Penyu

Koordinator VES Community ATR, Win Syahri Kusnadi SH, (Win Pudia) | Foto Ist.
Foto Ist

Untuk itu, dia menyebut bahwa usai pelaksanaan VES Camp, anak-anak VES Community juga wajib kurve (pembersihan lingkungan). “Jadi tidak serta merta usai menggunakan pantai, lalu kita tinggalkan sampahnya sembarangan,” ucapnya.

Win juga menyebut bahwa VES Community dalam bentuk sosial lebih kebencanaan. Anggarannya dikeluarkan dari VES Community pusat yang disebut dana wicker.

Kemudian, Win menyebut dana wicker tersebut diperoleh dari hasil produk yang dijualkan kepada anak anak VES Community sendiri, seperti produk Mecin Gaes yang mereka buat. Kita beli uangnya disimpan untuk kebutuhan kebencanaan (bantuan kemanusiaan)

Setiap tahun produk yang dijual berbeda-beda, bisa  dalam bentuk kaos, jaket, termos, play sit, cover mobil dan lain lainya. Tergantung dari pusat setiap tahun produk yang akan dijual.

“Dan uang itu hasilnya dikumpulkan ke kas pusat, begitu ada bencana di daerah kita ajukan ke mereka, dan mereka yang mengeluarkan anggaran tersebut, seperti menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), dan banjir besar di Kabupaten Aceh Tamiang.

“Kita bantu dalam bentuk sembako yang sempat putus waktu itu kita salurkan ke mereka,” tutur Win.

Lebih lanjut, Win juga mengatakan bahwa VES Community di Aceh, anggotanya sekitar 200 san.

Adapun VES Community pada dasarnya terbentuk karena memiliki hobi mobil tua, di mana merujuk ke sharing  pengalaman sparepart yang semakin langkah diperoleh. Hingga lalu kemudian terbentuk lah VES Community. “Di awalnya kecil hingga lambat laun menjadi sebuah komunitas yang besar hingga menjangkau ke seluruh daerah hingga nasional dari Sabang sampai Merauke,” papar Win.

Harapannya dari VES Community, sambung Win adalah bagaimana lingkungan tetap terjaga dari generasi ke generasi, lalu selanjutnya sosialisasi silaturahmi komunitas juga tetap terus terjalin. “Tentu,  harapan kita juga adalah bagaimana menjaga dan mempromosikan wisata alam di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Terakhir, kata Win terkait etika komunitas juga harus tetap dijaga, semisal ketika melakukan konvoi di jalan dengan tidak mengganggu dan membahayakan banyak pihak, baik pengemudi maupun pengguna jalan lain /arus lalulintas. (**)

Pos terkait