Dikatakan Prof Darni, jika berbicara visi harus dibarengi dengan han bu, yakni makanan, karena semua itu dibutuhkan oleh tubuh (pisik). Karena tanpa han bu, tentunya tidak bisa memadai. Oleh karenanya, semua itu, Prof Darni menambahkan butuh keseimbangan.
“Kita perlunya mengangkat harkat dan martabat masyarakat Aceh yang menghadirkan keseimbangan bagi semuanya demi cita-cita yang kita idam-idamkan bersama,” terangnya.
Merangkul Seluruh Elemen
Selanjutnya, dalam kesempatan yang sama, ketika ditanya terkait keterlambatan pengesahan APBA yang kerap terjadi setiap tahun sehingga berdampak terhadap proyek- proyek strategis di Aceh. Begitupun terkait Persiapan Aceh dalam menyambut perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024.
Sementara diketahui bahwa ketika penyelenggaraan PON Papua 2021. Di mana persiapan fasilitas penyelenggaraannya begitu matang terlihat, bahkan tiga tahun sebelum penyelenggaraan, mereka sudah mempersiapkannya.
Berbanding terbalik di Aceh, terkesan lambat, di mana berbagai fasilitas penyelenggaraannya baru dilaksanakan pada awal Desember lalu. Sedangkan
Target penyelenggaraannya akan dilaksanakan pada September mendatang.
Apakah hal ini bisa dikarenakan terjadi akibat ketidak harmonisan antara eksekutif dan legislatif? Karena sebagaimana diketahui bahwa pentingnya mencari pemimpin yang bisa menghindari keegoan demi mencapai keadilan.
Selain itu, juga ketika ditanya terkait sinergitas eksekutif dan legislatif di parlemen sehingga jika Prof Darni Daud, terpilih menjadi Gubernur Aceh ke depan sebagai pemangku orang nomor satu di eksekutif.






