Untuk perjalanan menuju Kupang, NTT harus melintas Kabupaten TTS (Timor Timur Selatan) serta TTU (Timor Timur Utara). Sempat singgah sejenak di restoran “Kolam Susu”. Kami di sana tidak minum susu, justeru meneguk minuman kaleng, khas Indonesia Wilayah Timur.
Kebanyakan pengurus Ikatan Penulis KB (IPKB) 1980-1990an itu pasca bergulirnya puncak reformasi, rata-rata sudah masuk dalam kepengurus PWI daerah masing-masing. Jadi sosok wartawan brewokan ini langsung larut dengan aneka nostalgia yang melatarinya.
Aceh pada masa konflik situasinya sedang berada dalam kondisi di “persimpangan jalan!” Referendum atau merdeka? Akan halnya beberapa daerah lainnya di Indonesia posisinya dalam kondisi kurang kondusif. Sementara para tokoh bangsa sedang larut dalam gontok- gontokan. Satu sama lain saling ngotot dan lebih mementingkan kelompok daripada membicarakan kesatuan dan persatuan bangsa. Suasana kerenggangan begitu terasa. Departemen Penerangan dileburkan Presiden Gusdur.
Gusar melihat keadaan tak karuan ini, Ketum PWI Tarman Azzam berusaha memframing opini melalui Gerakan Nasional Bersatulah Bangsaku (GNBB). Ketua PWI Aceh, Adnan NS dari provinsi paling barat Nusantara dan Ketua PWI Papua Usman Paka Ubun di ujung timur dihadirkan di belantara hutan tak berbatu itu. Bagi Tarman Azzam, cukup beralasan, Papua dan Aceh masuk daerah “three hot spot” kategori militer masa itu. Kedua provinsi paling barat dan timur ini dianggap sebagai pemegang simpul utuh tidaknya NKRI ini ke depan.
Desa Sota, Merauke Perbatasan Indonesia dengan Papua New Ginie menjadi tempat deklarasi. Disaksikan Lembaga Ketahanan Nasional, pengganti Departemen Penerangan, Tarman Azzam mendeklarasikan GNBB yang diprakarsainya itu. Mulanya unsur Aceh dan Papua diikut sertakan dalam beberapa safari perekat bangsa ini.Safari ini tak berusia lama, akhirnya padam sendiri ditelan suasana Pemilu April 2004 seiring mulai kondisinya suasana perpolitikan di Indonesia.






