Menuju Capaian Target Besar
APJN.NET, BANDA ACEH |Wakil Ketua Badan pemenangan pemilu (Bapilu) Partai NasDem Aceh, Ramadhana Lubis, mengatakan bahwa kegiatan silaturahmi yang digelar DPD NasDem Kota Banda Aceh merupakan bagian dari konsolidasi internal partai NasDem.
Hal tersebut, disampaikan Ramadhana Lubis, usai arahannya dalam kegiatan silaturahmi dan Konsolidasi struktur pengurus DPD, DPC dan Caleg DPRK Partai NasDem Kota Banda Aceh, di Kantor DPD NasDem, setempat, Senin (22/1/2024).
Menurut Ramadhana, bahwa silaturahmi dan Konsolidasi dilakukan agar partai NasDem di Aceh lebih kukuh, solid, kompak, dan saling mendukung satu tandem, DPRK, DPRA, dan DPR RI, menuju pada capaian target-target besar, yakni DPR RI.
“Dan hal ini sudah dinyatakan oleh Ketum untuk DPR RI dari Aceh 4 kursi, yakni Dapil 1 dua kursi, dan dapil 2, dua kursi,” paparnya.
Kemudian dalam kesempatan itu, Ramadhana juga mengatakan lagi bahwa untuk DPRA ditargetkan 15 kursi dari 10 dapil.
“Semuanya itu ada tergetnya masing masing dari 10 dapil itu, 1 dapil 1 kursi, dan ditambah dari beberapa dapil lainnya,” jelasnya.
Oleh karenanya, harapan kita partai NasDem Aceh, khususnya dapil 1 , dapil 10, dapil 9, dapil 5, dapil 7 maupun dapil 2 dapat menyumbang satu satu kursi sehingga mencapai 15 kursi di DPRA.
Sedangkan untuk DPRK, lanjut Ramadhana, ditargetkan 100 kursi dari 665 kursi dari 103 dapil diseluruh kabupaten/ kota se-Aceh. “Dulu kita, partai NasDem sudah pernah memperoleh 67 kursi di DPRK tahun 2014, seluruh Aceh,” jelasnya.
“Dan saya rasa target ini bukan sesuatu yang baru, apalagi dengan efek Anies ini, kata Ramadhana. Makanya, ujar Ramadhana lagi, ditargetkan 100 kursi DPRK, 15 kursi DPRA, dan 4 kursi DPR RI.
Oleh karena itu, sambung Ramadhana, tentunya kita berharap 7 kursi keluar dari DPRK Banda Aceh, supaya kita setidaknya 5 kursi minimal bisa mengusung calon walikota untuk Kota Banda Aceh.
“Saya melihat di Kota Banda Aceh potensi-potensi mengarah ke 7 kursi itu, sepertinya sesuatu yang sangat memungkinkan,” ucapnya.
Dia melihat dari konsolidasinya, pertemuan pertemuan yang dilakukan, serta caleg caleg yang ada, serta syiar-syiar partai yang begitu sangat luar biasa dilakukan oleh DPD Kota Banda Aceh.
“Apalagi, Kota Banda Aceh merupakan ibu kota Provinsi Aceh, ditambah efek Anies itu sangat kuat di Kota Banda Aceh, khususnya,” papar Ramadhana.
Lanjutnya, selain Kota Banda Aceh, Ramadhana juga menyebut ada DPD-DPD NasDem di kabupaten/ kota lainnya menjadi potensial, seperti Aceh Timur, sudah dua kali pemilu NasDem memperoleh 5 kursi.
“Hebat mereka walaupun tantangannya sangat besar. Karena selain itu, partai-partai lain sangat kuat di sana. Tapi, di sana partai NasDem bisa bertahan 5 kursi dua kali pemilu,” terangnya.
Untuk itu, harapan kita pemilu 2024, NasDem harus menang, karena di nasional itu kita tergetnya dua besar, minimal dua besar itu 100 kursi DPR RI seluruh Indonesia.
Karena dari target itu masing-masing provinsi itu sudah ditentukan, seperti DPR RI, Aceh ditargetkan 4 kursi. “Kalau kita bisa bermain di dua besar atau tiga besar di tingkat nasional, inikan sangat luar biasa,” terangnya.
Lanjutnya, sebagai partai baru, NasDem sudah 4 besar secara nasional sekarang ini. Dan dia juga mengatakan bahwa partai NasDem juga sudah pernah memperoleh dua tiga besar di provinsi Aceh, yakni 8 kursi di DPRA di tahun 2014,” ucapnya.
“Kalaulah sekarang kita bisa menargetkan dua kali lipat, saya rasa itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Artinya, kita tetap optimis dengan cara cara yang bagus, konsolidasinya bagus, kemudian efek dari suara suara dari Anies juga kita harapkan besar untuk partai NasDem juga,” pungkasnya.
Keberadaan Media Sangat Penting
Selanjutnya, dalam kesempatan tersebut, ketika ditanya terkait peran media dalam kegiatan pemilu, Ramadhana menyebut bahwa media merupakan salah satu pilar besar dari demokrasi.
Karena bagaimanapun keberadaan media itu penting, sebagai cek balancing keberpihakan kepada perjuangan terhadap keadilan, kebenaran, serta juga arahan.
Oleh karena itu hubungan partai, terutama NasDem dengan media itu harus di jaga, dan hal itu tidak boleh tidak. Karena media bagian terpenting dari bagaimana kita menegakkan demokrasi dan sebagai kontrol pengawasan dan sebagainya.
“Media itu sangat penting, tanpa media gerakan-gerakan perubahan itu tidak ada artinya, termasuk di Aceh dan seperti itu kondisi kenyataannya.
“Tanpa media gerakan gerakan perubahan tidak akan bisa terjadi karena media pilar keempat dari demokrasi,” pungkas Ramadhana. []






