Ia juga ingin berbuat lebih demi perubahan pembangunan Aceh lebih baik, SDM alumni dan ketersediaan lapangan kerja lulusan juga penting mendapatkan perhatian bersama.
Hadir dalam kegiatan tersebut, peserta dan undangan dari kalangan mahasiswa, aktivis, seniman juga budayawan, juga awak media, sesi tanya jawab talkshow dari sisi peserta yang hadir umumnya menyoroti problema birokrasi dalam bidang ekonomi yang sebaiknya ada upaya signifikan dari sisi kepemimpinan di Aceh agar terbangun dunia usaha juga bisnis yang lebih terbuka dan demokratis.
Peserta juga menginginkan agar peran para pihak dalam pembangunan ekonomi Aceh lebih bersifat representatif sisi budaya, representatif bahan baku lokal.
Menurut salah satu peserta, terobosan membangun Aceh dari kajian budaya seharusnya turut dipakai sebagai segmen road map dan garis besar haluan pembangunan Aceh secara umum, agar kekhasan, keistimewaan Propinsi Aceh itu sendiri tetap terlihat di segala lini pembangunan, termasuk perekonomian.
“Sikap dan kebiasaan di Aceh sebagai warisan masa lalu harus mampu sama-sama kita refleksikan, hal-hal baik yang diwarisi sejak masa lalu harus mampu dipertahankan, seperti keterbukaan dengan pendatang dalam investasi bahkan perang yang berlangsung lama dalam sejarah Aceh dulu kita tetap mampu bangkit dan kembali diperhitungkan dunia internasional.
Peringkat kesejahteraan Aceh secara nasional memang kurang menggembirakan, karenanya, peran pemerintah terutama pengaruh pemimpin yang sangat penting untuk menjaga terciptanya pertumbuhan ekonomi kawasan.






