APJN.net|BANDA ACEH– Sejauh rencana manusia, pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) sudah final: AniesBaswedan dan Muhaimin Iskandar.
“Sebuah penggabungan yang sangat baik karena keduanya adalah anak umat,” kata Ketua DPW Partai NasDem Aceh, Teuku Taufiqulhadi, melalui siaran persnya Medio lalu.
Menurutnya, Anies Baswedan yang kuliah S1 di UGM dan doktornya dalam bidang kebijakan publik di Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat, lahir dari rahim HMI, sebuah organisasi mahsiswa Islam yang berpengaruh dan menjadi sumber pemimpin umat dan bangsa Indonesia.
“Sementara Muhaimin Iskandar, yang juga kuliah di UGM, pernah menjadi Ketua Umum PMII, sebuah organisasi mahasiswa Islam yang menjadi sumber kader bagi organisasi NU dan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Lanjutnya, mengatakan HMI dianggap lebih cenderung kepada pembaharuan dalam Islam, sementara PMII, yang menjadi anak NU, dianggap sebagai pendukung Islam Salafiyah di Nusantara.
“Semua pondok pesantren di bawah naungan NU disebut pondok pesantren salafiyah, yang artinya sangat mempertimbangkan ortodoksi dalam pengajaran Islam,” paparnya.
Ia menambahkan semua pesantren di Nusantara bersikap dan bersifat sangat toleran, dan Muhaimin mewarisi ortodoksi Islam sekaligus bersikap sangat toleran.
Lebih lanjut, dikatakannya Anies Baswedan, yang penuh kesadaran memilih HMI karena memang pengaruh kecenderungan keluarganya kepada gagasan-gagasan pembaruan dalam beragama. Selain itu, kakeknya, Abdurrahman, adalah pejuang kemerdekaan.





