APJN.net| ACEH BESAR Terkait masih adanya ladang ganja setiap tahun ditemukan di Lamteuba, Aceh Besar, hingga menimbulkan pertanyaan dikalangan masyarakat, Dr Bustamam Ali MPd, yang merupakan Warek 3 bidang kemahasiswaan Fisipol Unida Banda Aceh, tersebut menanggapi bahwa kondisi realitas yang sebenarnya belum dapat kita pastikan. Karena selama ini kita memperoleh informasi tersebut dari membaca berita di media.
Namun, sebutnya kita harus berkeyakinan suatu hari nanti, masyarakat setempat akan memiliki SDM yang baik, salah satunya adalah dengan menyediakan sarana, sekaligus memberikan kesempatan pendidikan yang laik bagi masyarakat di wilayah setempat.
Hal tersebut disampaikannya dalam bincang bincang di salah satu Kafee di Banda Aceh, kepada media ini, beberapa hari lalu.
Untuk itu, ia mengatakan bahwa salah satu program Universitas Iskandar muda (Unida) Banda Aceh, adalah mendirikan kampus alam Lamteuba. Meski banyak orang menanggapi bahwa program tersebut adalah program “gila”. Karena biasanya membangun kampus itu di tempat-tempat strategis atau keramaian (perkotaan).
Menurutnya, hakekat membangun kampus itu bukan selamanya berorientasi bisnis, tapi juga ada misi-misi sosial di dalamnya, yakni bagaimana memberi kesempatan kepada orang-orang yang kurang mampu untuk mendapatkan kesempatan berpendidikan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik.
Ia menyebut, bahwa siapa lagi kalau bukan kita yang memulainya. “Karena kalau,lah bukan kita yang memulainya mereka atau masyarakat setempat akan terus tergerus hingga tidak akan mendapatkan SDM yang layak,” ucapnya.
“Alhamdulillah kampus Alam Unida Lamteuba, sudah 10 tahun berdiri, dan pergerakannya dimulai 6 tahun setelah berdirinya kampus tersebut bahkan sekarang sudah ada lulusan 10 orang,” tutur pensiunan Kepala UPTD Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh tersebut.
Sambungnya, dengan dibangunnya kampus Alam Unida di daerah tersebut, kita melihat sudah adanya perkembangan. Bahkan saat ini ada dari warga setempat yang sudah menyandang S2, jebolan kampus Alam Unida Lamteuba.
“Ada yang sudah jadi guru SMA, bahkan kepala sekolah ditingkat sekolah dasar (SD). Selain itu juga ada yang menjadi keuchik, dan tokoh-tokoh masyarakat,” kata Bustamam Ali, yang juga Penasihat PWI Aceh tersebut.
Lanjut Bustamam, bahwa mahasiswa yang mengecap pendidikan di kampus Alam Unida Lamteuba, itu dari ekonomi lemah. Mereka didanai oleh yayasan Unida, dan kuliah sambil bekerja. Kecuali S2, karena berasal dari keluarga yang mampu. Tapi bagi yang kurang mampu dibiayai oleh yayasan disamping ada juga dari aspirasi.
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa kampus Alam Unida Lamteuba, sudah memiliki Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK), bertujuan dapat menjadi bekal para mahasiswa untuk memasuki dunia kerja. Mahasiswa dilatih untuk mengolah bahan baku menjadi bahan jadi, semisal menghasilkan tepung jagung, tepung kunyet, tepung jahe, tepung kemiri, dan sebagainya.
“Dikemas dalam bentuk yang sudah jadi, dan tidak hanya dipasarkan secara manual, namun pemasarannya juga bisa melalui online nantinya,” jelasnya
Ia juga menyebut, selain sudah memiliki Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK), kampus Alam Unida Lamteuba, juga memiliki lahan pertanian, pertenakan dan juga pesantren.

“Saya merasa hal tersebut sangat berorientasi karena daerah tersebut, merupakan daerah pertanian. Apalagi di kampus Unida memiliki prodi Agrotek bergerak di bidang pertanian.
“Dan ini menjadi lahan praktek mahasiswa Unida di sana. Mungkin suatu hari nanti otomatis tidak hanya untuk mahasiswa kita, juga bisa untuk masyarakat yang berkeinginan mengembangkan usaha industri pangannya di sana, yakni mengolah bahan baku menjadi bahan jadi atau siap saji.
Dan hal itu sebut Bustamam Ali, bisa saja dilakukan kerjasama dengan masyarakat setempat, karena peralatan yang dimiliki sudah berteknologi industri, semisal pengolahan biji kopi, alatnya juga sudah lengkap.
“Kan sayang jika tidak dimanfaatkan. Artinya nanti ketika ada orang-orang yang ingin pergi ke Lamteuba, pulangnya sudah bisa membawa pulang oleh oleh (buah tangan). Karena sudah adanya beragam hasil produksi kerajinan industri, juga berbagai makanan siap saji,” jelasnya.
Nanti juga akan ada makanan khas Lamteuba, termasul Pliek’u atau Patarana, dan sejenis makanan lainnya, karena makanan Pliek u itu juga sekarang ini sudah mulai langkah. Meski ada, namun di Lamteuba, hasil produksinya lebih steril.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa kampus Alam Unida Lamteuba, jika dilihat dari kondisi alamnya sangat menarik untuk orang-orang yang ingin berwisata alam, karena letaknya di semenanjung sungai, tempat permandiannya juga begitu sangat indah dan nyaman.
Terpenting saat ini kata Bustamam Ali, adanya tangan- tangan yang mau berkontribusi melakukan kemajuan, serta dukungan langsung masyarakat juga sangat dibutuhkan.
“Saat ini dari sarana pendidikannya, kampus Alam Unida Lamteuba, telah berdiri pesantren dan dayah. Selain itu, di area sekitar lokasi kampus Alam Unida Lamteuba, bisa dijadikan sebagai tempat taman wisata syariah ketika masyarakat ingin berekreasi di sana, karena alam dan aliran sungai-nya begitu nyaman dan indah,” terangnya.
Selain itu, ia juga menyebut pihak Unida, sangat optimis diawal membangun kampus Alam Unida Lamteuba. “Jika tidak optimis tidak mungkin dibangun kampus Alam Unida di Lamteuba. Hanya saja perlu dukungan semua pihak dan bersinergisitas,” terangnya.
Lanjutnya, mengatakan jangan ada yang merasa pesimis ketika kita berbuat yang positif. Artinya, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita melakukannya dengan ikhlas, bukan karena keterpaksaan. Sambungnya, yang dibangun itu bukan proyek pemerintah tetapi misi sosial.
Ia mengatakan, jika kita berpikir bisnis tak mungkin kita membangun kampus Alam Unida di Lamteuba. Karena jika dilihat dari nilai investasi tak mungkin kembali dengan cepat. Karena pada dasarnya, daerah tersebut, bukan daerah yang berkembang pesat.
Namun, bukan itu yang kita mau, tapi bagaimana kita berpikir bisa melahirkan sumber daya manusia yang bermutu dan baik. “Kalau kita berpikir orientasi bisnis atau bisnis kapitalis pasti kita akan mencari lokasi yang ramai penduduknya hingga mendapatkan untung yang besar.
Jadi, sampai sekarang kampus Alam Unida Lamteuba, masih terus kita lakukan subsidi.
Terakhir, ia menyebut bahwa kampus Alam Unida Lamteuba juga sudah dibangun sarang walet, meski belum diperoleh hasilnya, karena masih baru,” tutupnya.
Untuk diketahui, Kampus Alam Lamteuba, Kecamatan Seulimuem Aceh Besar, tersebut digagas diatas lahan 35 hektar oleh Rektor Unida, Prof Dr Syafei Ibrahim MSi, serta Pengurus Yayasan, antaranya Drs H A Malik Raden MM, dkk.
“Selain mahasiswa kuliah sambil berwirausaha, di kampus tersebut juga dikembangkan sebagai kawasan wisata syariah,” pungkas dosen mengajar S1 dan Pasca-Sarjana ini. [red05]






