Disisi lain, Sigit mengungkapkan, dari hasil diskusinya dalam acara tersebut, ternyata banyak santri yang ingin menjadi personel Kepolisian. Sigit pun menyambut baik keinginan para santri tersebut.
“Jadi banyak hal yang tadi kita diskusikan. Termasuk banyak santri yang ingin menjadi polisi dan kita sangat gembira,” tambah Sigit.
Sigit menyebut, dengan bergabungnya santri sebagai personel kepolisian, maka sejalan dengan program Polri terkait pengembangan SDM unggul, memberikan pelayanan terbaik, serta mewujudkan polisi yang dicintai dan dekat dengan seluruh masyarakat Indonesia.
Lebih lanjut Sigit mengatakan dengan santri-santri yang memiliki kemampuan dalam hal agama, tentunya ini tidak diragukan lagi. “Ini akan memperkuat pengembangan SDM unggul yang ada di kepolisian, dan juga saat berinteraksi dengan masyarakat,” jelasnya.
Dijelaskannya bahwa saat ini khususnya kita (polri) terus mendorong dan mengembangkan untuk terus-menerus bisa semakin melayani, semakin dekat dengan masyarakat.
Sementara dalam kesempatan itu, Sigit juga tidak lupa mensosialisasikan kepada seluruh santri untuk mewaspadai penyebaran informasi palsu maupun black campaign, khususnya di media sosial (medsos) ketika memasuki tahun politik saat Pemilihan Umum (Pemilu) serentak tahun 2024. “Imbauan itu diperlukan untuk menghindari terjadinya potensi perpecahan bangsa,” tukasnya.
Oleh karena itu, tentunya diingatkan kepada seluruh masyarakat, khususnya para santri untuk betul-betul berhati-hati. “Jadi saring sebelum sharing. Sehingga kemudian hal-hal yang bisa memecah belah bangsa, memecah belah persatuan itu harus dihindari,” tutur Sigit.






