Keempat, nilai pendidikan. Tentunya bicara bagaimana memandu teknik detail cara menghasilkan kuliner (khususnya apam) yang baik serta lezat untuk dinikmati. Kelima, nilai ekonomi. Biaya untuk bahan baku dari menu kenduri apam biasanya dikumpulkan masing-masing keluarga (meuripee), kemudahan bahan itu disatukan dan hasil masakan menjadi santapan penyajian bersama (diistilahkan khanduri) dalam suasana penuh pemaafan dan keakraban.

”Kenduri apam bagi orang Aceh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat dan menjadikannya sebagai momentum untuk silaturahim antarsesama,” kata Farid saat menyampaikan sambutannya.
Farid menambahkan ada beberapa filosofi kenduri tet apam. Pertama, mempertahankan tradisi. Meskipun apam walau bisa saja dimasak dengan alat masak yang modern, tetapi apam tidak akan terasa nikmat secara cita rasa dan aromanya jika tidak “ditet” secara tradisional, bisa dikatakan “tidak sah” disebut apam jika tidak diolah secara tradisional.
”Makna yang terkandung di sini, melalui tet apamlah kita dapat mempertahankan tradisi dan kebiasaan indatu kita, tet apam adalah warisan indatu yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya
Kedua, kesabaran dan kegigihan. Tet apam melatih dan membiasakan kita untuk biasa hidup gigih (ulet) dan sabar. Apam dibakar satu per satu, berbeda dengan panganan lainnya yang bisa dimasak sekaligus dalam jumlah banyak.
”Dari cara memasak apam ini, kita belajar akan arti kesabaran dan keuletan, sikap sabar dan gigih adalah kunci sukses dalam kehidupan ini, sering sekali orang gagal dalam hidup dan perjuangan karena tidak mampu bersabar dan tidak gigih (ulet) dalam bekerja/berjuang,” katanya.






