Ia khawatir, jika figur-figur lainnya memaksakan diri untuk mengisi kekosongan Wagub Aceh tersebut, meski belum berpengalaman dan tak berkemampuan dalam urusan kepemimpinan pemerintahan dan pembangunan pasti akan menjadikan Aceh semakin tertinggal, terpuruk terus menerus.
Menurutnya, stok sumber daya pemimpin Aceh yang layak dijadikan pemimpin itu sangat terbatas, namun diantara stok yang terbatas itu ada nama figur yang sudah lama terkenal, Muhammad Nazar mantan Wagub Aceh yang memang diakui dan telah terbukti memiliki kemampuan dan pengalaman mengelola pemerintahan maupun pembangunan.
“Kami ingatkan, Irwandi-Nova itu menang dulu di Pilkada 2017 karena suara rakyat yang dominan,” paparnya.
Tambahnya, gabungan jumlah suara anggota-anggota partai pengusung tidak akan bisa memenangkan mereka hanya dengan jumlah suara anggota kerabat pasangan kandidat Gubernur-Wagub saja, tanpa suara warga lain yang jauh sangat lebih banyak jumlahnya.
“Jangan lupakan itu, dan kami sejauh ini tak pernah meminta proyek, tak pernah meminta apapun kepada Gubernur maupun partai-partai pengusung.” tuturnya.
Irdan, seorang eksekutif di salah satu Industri Semen Nasional di Jawa Barat pada tahun 90-an itu, meminta agar partai-partai pengusung bertindak sesuai prinsip politik demokrasi dan perundang-undangan yang berlaku.
“Jangan menghabiskan waktu jika tidak memiliki kemampuan berpolitik yang ada hanya tidak menguntungkan pembangunan dan masyarakat.
Aceh membutuhkan figur, Yang sudah siap dengan segala pengalaman dan kemampuan kepemimpinan, dan sosok itu yang harus dijadikan wagub pengisi sisa jabatan untuk membantu Gubernur dalam bidang pemerintahan dan pembangunan Aceh, kedepannya.






