Pandangan Miris Tokoh Pers Aceh Ketika Berobat ke Puskesmas Banda Raya

Senator Aceh 2004-2009 yang juga tokoh pers nasional, mantan ketua PWI Aceh dan mantan penasehat PWI Pusat Adnan NS, saat Swab antigen di UPTD Puskesmas Banda Raya, Selasa , 29/6/2021/ Ist

APJN.net – Banda Aceh | Sebuah pandangan  miris, penuh keprihatinan dan ketidaklayakan terjadi disalah satu puskesmas di Kota Banda Aceh, dalam memberikan pelayanan medis ketika melakukan rapid tes antigen terhadap para pasiennya, pagi itu, Selasa (29/6/2021).

Sebut saja, Pukeskemas tersebut adalah UPTD Puskesmas Banda Raya, yang terletak di Jl.Teungku Dilhong I, Lhong  Raya, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh.

Timbul pertanyaan, apakah perlakuan  kurang etis, kurang layak, kurang manusiawi, kurang simpati, dan miris ini diperlakukan terhadap pasien dalam test swab antigen dikarenakan ketidak adanya ketersediaan sarana dan fasilitas pada pusat pelayanan publik ini?

Ataukah menganggap setiap orang yang diduga dan patut diduga terkena covid 19, lalu harus diperlakukan seperti orang lepra (penyaket budok)  harus diperiksa atau di swab antigen itu di pinggir parit, atau di bawah pohon yang lembab tanpa adanya atap pelindung dan dibiarkan disantap nyamuk dengan harus menunggu giliran rapid tes hingga harus melebihi satu jam untuk menunggu ?

Begitulah, ironisnya seperti yang dialami seorang tokoh pers Aceh, Adnan NS. Pasalnya, dia harus menunggu dari pukul 09.04 Wib hingga pukul 10.14 Wib.

Menurutnya, sempat memperotes perlakuan yang kurang bersahabat itu, sekira pukul 09.55 Wib.

“Saya sempat protes perlakuan kurang bersahabat itu, dan berencana membatalkan swab rapid antigen karena Tim dokter swab baru turun pukul 10.08 Wib dan melakukan proses rapit pukul 10.14 Wib,” ujar Senator Aceh itu.

Dalam keadaan seperti itu, dirinya sempat berbisik dalam hati, jika dikatakan dalam keadaan darurat, atau karena ketakutan bertatapan dan atau berdekatan dengan pasien yang diduga terserang Covid-19 ?

‘Kan bisa saja disediakan tenda, teratak, atau alas kaki atau perlak atau plastik, janganlah beralas tanah beratapkan langit, seperti memeriksa kerbau di padang gembalaan,” ungkapnya miris, sebagaimana juga komentar beberapa pasien lainnya, yang pada saat itu juga baru keluar dari Pusat Kesehatan Masyarakat tersebut, Selasa (29/6)

Diantara perlakuan dan tontonan tidak menarik dan tidak simpati itu dialami Adnan NS, merupakan mantan Dewan Kesehatan Aceh, periode 2000-2005.

Begitupun namanya tak asing lagi dikalangan medis di Aceh, sejak 1980 hingga 2005, tugas kewartawannya 25 tahun di lingkup kesehatan. Dia pun dulunya sempat akrab dengan sejumlah Dirjen di Kementerian dan Menkes di Jakarta.

Senator Aceh 2004-2009 yang juga tokoh pers nasional, mantan ketua PWI Aceh dan mantan penasehat PWI Pusat ini tak berkutik ketika diperlakukan oleh tenaga profesional yang tidak proporsional ini demi untuk mengetahui dan  memastikan kondisi kesehatannya, apakah terkena covid-19, ketika ditawarkan oleh petugas medis setempat.

Meski pada medio Maret – April 2021, dirinya sudah pernah melakukan vaksin di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) dengan pelayanan yang sangat terkesan paling baik.

Namun, di puskesmas Banda Raya tersebut, dia malah merasa diperlakukan rada aneh di awal berobat, karena pada saat akan mengambil kartu antrian langsung dipertanyakan terkait sakitnya.

“Bapak sakit apa,” tanya petugas kartu bagian depan kepada dirinya.

Selanjutnya, ketika diketahui menderita radang tenggorokan, Adnan langsung dihadang, dan diminta untuk duduk di atas kursi berlantai tanah.

“Bapak duduknya di kursi ini, (bukan diteras),” sebut petugas medis tersebut.

Selanjutnya, beberapa saat kemudian dirinya, diminta untuk pindah ke teras samping hingga kelang beberapa waktu dipanggil ke teras depan dan diwawancarai dengan beberapa pertanyaan terkait usia, penyakit yang di derita, seperti adanya demam, sesak napas, dan tersumbat pada pernapasan rongga hidung.

Selanjutnya, prihal tersebut dia mengatakan sempat di wawancarai oleh pihak medis dengan beberapa pertanyaan, salahsatunya yakni terkait mengunjungi di beberapa lokasi keramaian seperti halnya menghadiri undangan orang pesta ?

Sementara, tokoh pers tersebut dengan jujur menjawab bahwa dirinya pukul 24.00 Wib, (malam) sempat mengalami sumbatan pernapasan di bagian rongga hidung sebelah kanan, tapi paginya sudah menghilang, yang hanya masih dirasakan sakit pada bagian tenggorokan.

“Oke, apakah bapak mau di swab ? tanya pihak medis tersebut. Oh sangat mau, ucap Adnan spontan dengan harapan dapat memastikan kondisi kesehatan dirinya yang sebenarnya.

Namun, mirisnya dia sempat terkejut ketika diminta untuk duduk di kursi dibawah pohon, yang ada tumpukan bunganya di dekat pagar.

“Tidak ada satupun petugas yang memberikan edukasi, bahkan Zul, mantan pejabat Disdik Aceh, sempat  mentertawakan dirinya karena  terkesan seperti orang buangan,” katanya.

Kala itu beberapa orang yang melintas sempat memperhatikan dirinya, ketika duduk sendirian sambil telapak  tangannya menepis beberapa nyamuk yang menyantapnya di bawah pepohonan besar dan lembab sembari menunggu hasil pemeriksaan dan diserahkannya bukti hasil rapid test oleh pihak medis hingga dinyatakan dirinya negatif covid-19.

Selanjutnya sambil berlalu tampak dua petugas kesehatan yang mewancarainya di teras depan berjarak tiga meter memegang buku catatan riwayat berobat.

Anehnya, dirinya masih riwayat sakit dan kapan terakhir berobat, seolah petugas bermasker dengan menggunakan face shild terkesan saya  tak paham akan medis recordnya.

“Saya memang sering tidak absen bermasker dan face shild, jika berpergian dengan bus umum. Justeru terkesan petugas ini ketakutan melihat kebiasaan ini setiap ke Rumah Sakit atau Puskesmas. Wallahualam Bissawab ? []

Pos terkait