Upaya Kembangkan UMKM, Dinas Koperasi dan UMKM Aceh Kolaborasi dengan Anggota DPRA HT Ibrahim

Anggota DPRA dari fraksi Demokrat, HT Ibrahim, ketika memberikan arahannya dalam kegiatan bertajuk Peran Legislatif Dalam Mengembangkan UMKM Di Provinsi Aceh" di Hotel Madinatul Zahra, Aceh Besar, Selasa, (6/12/2022). (Dok Hendra)

APJN.NET- BANDA ACEH- Anggota DPRA dari Fraksi Demokrat, HT Ibrahim ST MM, mengatakan bahwa bantuan peralatan plus Bimtek yang diberikan pemerintah tahun 2022, melalui dana pokok pikiran (pokir) baru bisa kita berikan kepada masyarakat khususnya bagi para pelaku UMKM yang terwakili dari Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang.

“Dan untuk kali ini saya mendapatkan tiga kelompok dari kecamatan Darussalam, Baitussalam dan kelompok Disabilitas,” ujar HT Ibrahim kepada awak media,  usai membuka kegiatan bertajuk Peran Legislatif Dalam Mengembangkan UMKM Di Provinsi Aceh” oleh  Bimbingan Teknis Kuliner dan Pengemasan Minuman/ Makanan Ringan Bagi Wirausahawan Pemula, di Kecamatan Aceh Besar, Iswandi, di Hotel Madinatul Zahra, Aceh Besar, Selasa, (6/12/2022).

Adapun kegiatan tersebut dilaksanakan selama 2 hari sejak Selasa (6/12) hingga Rabu,( 7 /12/2022) dengan menghadirkan para pelaku UMKM sebanyak 30 orang peserta dari tiga wilayah Kecamatan di Aceh Besar.

Menurutnya, ada tiga kelompok para pelaku  UMKM yang diberikan bantuan berupa peralatan plus Bimtek dengan jumlah perkelompok masing masing sebanyak 30 orang.

Selanjutnya, masing masing kelompok berjumlah 30 orang tersebut, 16 orang yang hanya bisa mendapatkan bantuan berupa peralatan yang jenisnya berbeda beda, tergantung dari permintaan kelompok tersebut, baik berupa rak mie, saring kopi, freezer, serta peralatan lainnya.

Intinya, kata HT Ibrahim, bermacam ragam permintaan jenis peralatan dari para peserta masyarakat pelaku UMKM itu sendiri, yakni tergantung dari apa yang dibutuhkan.

“Rata rata yang mendapatkan ini sudah mulai melakukan usaha tapi belum ada peralatan. Hal itu kita berikan berdasarkan seleksi yang kita lakukan, semisal pelaku UMKM pengelola ikan asin, tidak ada freezernya. Orang itu minta freezer. Karena mereka tidak mampu membelinya terkendala harga,” kata politisi partai Demokrat tersebut.

Selain itu juga terkait kemasan produk yang dihasilkan, semisal tadi ada produk UMKM membuat kue yang di bungkus dengan plastik biasa sehingga secara persaingan nilai jualnya berkurang.

Oleh karena dengan adanya pelatihan plus bantuan peralatan ini bisa memberi nama produk dengan kemasan yang menarik  Artinya kue tersebut dikemas menjadi bagus dan menarik untuk dipasarkan.

“Ya, jika dilihat dari rasa juga tidak jauh jauh berbeda dengan kue kemasan lainnya dipasaran, bahkan jika dalam penilaian kita kualitasnya juga tidak kalah dengan produk lainnya, bahkan lebih enak lagi,” paparnya.

Dikatakan HT Ibrahim banyak sekali bantuan yang dimintakan para pelaku UMKM. Tapi karena anggaran terbatas sehingga tidak semuanya bisa terkaper dikarenakan melalui anggaran perubahan. Oleh karena bagaimanapun harus kita upaya dan maksimalkan dengan anggaran yang ada. Namun walaupun demikian dapat kita laksanakan.

“Dan saya laksanakan bukan hanya di dinas koperasi dan UMKM saja, tetapi juga ada di badan Dayah,” jelasnya.

Seperti halnya, pelatihan bagi para santri bukan hanya khusus diajarkan dari sisi  pengajian saja, namun juga agar para santri bisa lebih mandiri lewat UMKM.

Jangan seolah olah santri itu semata hanya belajar kitab saja, tetapi mereka juga bisa berusaha lewat UMKM sambil menuntut ilmu keagamaan.

Selanjutnya, dikatakan HT Ibrahim, tujuan kegiatan itu dilaksanakan adalah untuk memberikan pembekalan (bimbingan teknis) terhadap para pelaku UMKM oleh tim penilai.

Di sini nantinya para pelaku UMKM tersebut, betul betul dinilai layak enggaknya mereka memperoleh bantuan peralatan tersebut.

“Mudah mudahan kedepan kegiatan ini bisa terus berlanjut karena program tersebut sangat bersentuh langsung kepada para pelaku UMKM. Sehingga mereka, para pelaku UMKM benar benar bisa berusaha ketika menerima bantuan peralatan plus Bimtek tersebut, sesuai kebutuhannya.

Ia mencontohkan, bagi para penjual air tebu, mereka minta mesin dan kemasan atau cup -nya. Karena selama ini mereka para pelaku UMKM hanya mengisiya didalam gelas. Artinya dengan adanya mesin dan cup tersebut nilai jual mereka bisa lebih besar, higenis dan bersih.

Selama ini penjaja air tebu lazimnya, menjualnya didalam gelas. Begitu juga dengan para pelaku UMKM yang berjualan pisang goreng. “Dengan bantuan peralatan yang kita berikan tersebut diharapkan  penjualan mereka bisa lebih praktis sekaligus meningkatkan hasil jualannya,” harap HT Ibrahim.

“Mereka bisa mendapatkan rak yang lebih bagus dari stainless dan ada lemarinya sehingga lokasi dan tempat mereka berjualan menjadi bersih dan steril,” ucap HT Ibrahim.

Coba kita melihatnya sekarang ini, mereka berjualan dengan kondisi yang jika kita amati agak kurang menarik dan higenis, baik dari sisi minyak goreng, peralatan serta lainnya hingga kita melihatnya kurang nyaman.

“Nah di sini, kita lakukan pelatihan berupa bimbingan teknis atau edukasi supaya para pelaku UMKM jika dilihat baik dari golongan bawah maupun atas tertarik untuk membelinya.

Sebenarnya, banyak sekali permintaan para pelaku pelaku UMKM kepada kita dengan berbagai jenis barang yang tidak pernah sama, meski dalam katagori satu rumpun, semisal dalam bentuk kemasan.

Ia menyebut seperti para pelaku UMKM di wilayah kecamatan Baitussalam, di mana rata rata para penjual mie di sana, biasanya diawali bekerja dengan orang, dan berkat pengalaman dan keterampilannya mereka pengen berusaha sendiri (mandiri).

Namun, terkendala modal sehingga keinginan untuk memulai berjualan belum memiliki modal, seperti tidak adanya peralatan.

Oleh karena, dengan adanya bimbingan teknis plus bantuan peralatan ini, diharapkan mereka sudah bisa berusaha sendiri. Pun demikian terhadap penjual Martabak dan para pelaku UMKM lainnya.

Dengan modal batuan peralatan  yang diberikan senilai Rp 8 juta hingga Rp 10 juta tersebut, nantinya mereka diharapkan bisa membuka usaha sendiri. Di sini yang kita bisa memberikannya, meski bukan berupa uang tetapi peralatan.

“Pengalaman saya juga, jika kita berikan uang dikhawatirkan tidak digunakan untuk keperluan berjualan, namun digunakan untuk hal hal lainnya. Maka, dalam kata sambutan saya tadi berharap, peralatan yang diberikan nantinya dapat digunakan sebaik mungkin.

Kemudian HT Ibrahim, berharap dengan bantuan peralatan yang diberikan tersebut agar dapat terbuka jalan untuk benar benar mereka berusaha hingga terbukanya lapangan kerja.

“Jangan lalai duduk di warung kopi main game. Akhirnya terbawa ke hal hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Artinya, nanti tidak ada lagi yang berbicara ketika kita tanya ngapain berlama lama duduk di warung kopi yang dapat menghabiskan waktu tanpa guna.

“Nah untuk itu kita berikan bantuan peralatan kepada mereka agar bisa berusaha dan  menciptakan lapangan kerja,” tukasnya.

Dan hal ini saya programkan hingga terpanggil jiwa saya memberikan bantuan mereka berupa peralatan kerja plus Bimtek  bukan dalam bentuk uang,” sambungnya.

Tahun ini, kita berikan bantuan berupa peralatan kerja plus Bimtek, tidak seperti tahun tahun sebelumnya yang hanya kita berikan bantuan berupa barang secara langsung maupun kelompok tanpa melalui proses bimbingan teknis. Untuk itu kita berharap bantuan peralatan plus Bimtek yang diberikan tersebut agar tepat sasaran.

Harapan kita dengan dengan diberikan bantuan berupa peralatan kerja dan Bimtek ini, dapat terbukanya lapangan kerja dan mengurangi pengangguran serta banyak lagi lainnya yang dapat berguna untuk kepentingan masyarakat khususnya para pelaku UMKM yang membutuhkannya.

Bintek Sangat Membantu Pelaku UMKM

Sementara dalam kesempatan itu Kepala dinas Koperasi dan UMKM Aceh, melalui  Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Pengawasan dan Pengawas Koperasi  Febrian Maulana SE, mengatakan dengan adanya Bimtek tersebut sangat membantu taraf ekonomi masyarakat melalui apa yang bisa kita bantu dalam kapasitas mereka berusaha.

Kebanyakan kendala selama ini di Aceh utamanya terhadap pelaku UMKM menengah kebawah itu terutama adalah masalah modal. Artinya apa yang dapat kita bantu baik dari sisi pelatihan dan teknis maupun lainnya.

“Kita coba berkolaborasi dengan pihak dewan dengan bagaimana caranya kita bisa membantu para pelaku UMKM yang ada di Aceh,” katanya.

Lanjutnya, banyak beberapa kegiatan yang dilakukan dimulai dari kecamatan Baitussalam dan Darussalam. Selain itu juga ada dari beberapa kecamatan lainnya di kabupaten Aceh Besar.

Kegiatan yang dilaksanakan tersebut, selain pengenalan bagaimana melakukan pengemasan dan menghasilkan  produk yang baik dan menarik juga dalam kegiatan bimbingan teknis  kuliner bagi wirausahawan pemula serta peningkatan kapasitas building terhadap para pelaku UMKM.

Kita berharap UMKM di Aceh ini tetap semakin berkontribusi terhadap perekonomian di Aceh pada umumnya.

(red)

Pos terkait