Menjawab hal tersebut, secara tidak langsung Syehky, menepis hal dimaksud, karena menurutnya pergerakan yang dilakukannya ini murni keinginan masyarakat yang selama ini dirasa terabaikan.
Lanjut Syehky, tertundanya pergerakan ini bukan berarti gagal untuk dilakukan hanya saja dilakukan penundaan sementara, dikarena aturan covid yang mesti dijalankan.
Namun tidak tertutup kemungkinan pergerakan ini akan lebih besar lagi nantinya.
“Artinya nanti kita akan hadirkan dalam jumlah yang lebih besar lagi, dalam hal menuntut persoalan MoU termasuk menanyakan kepada delegasi delegasi yang selama ini terlibat dalam hal penyelesaian damai antara RI dan GAM,” sebutnya.
Dikatakan Syehky, selama ini pihaknya sudah sering mengutarakan kepada petinggi petinggi GAM maksud dan harapan masyarakat, namun tidak pernah didengar bahkan diabaikan, mereka lebih bermuatan kearah pribadi dan kelompok.
Oleh karenanya, Syehky menghimbau kepada seluruh saudara saudara yang ada di daerah daerah wilayah Aceh agar senantiasa bersabar mengingat hukum covid yang masih berlaku.
Alasannya, bukan berarti pergerakan ini dihentikan. Pergerakan ini tetap berlanjut, hanya penundaan sementara yakni melewati masa covid.
“Untuk itu, terhadap saudara saudara kita yang sebelumnya sudah mendengarkan seruan pergerakan tersebut dari awal agar terlebih dahulu agar dapat bersabar serta mempertimbangkannya karena adanya aturan covid ini,” terangnya.
Meskipun diakui Syehky bahwa dia merupakan orang yang pertama melakukan seruan tersebut, namun juga harus kita ingat bahwa pergerakan ini tidak terlepas berkoordinasi dengan aparat keamanan dalam hal ini pihak kepolisian.






