Kini yang hanya tersisa dari Ramazi, paling hanya bisa menghabiskan masa masa hidupnya dengan tanpa harapan.
“Jika hujan Ramazi bersama saya di rumah sebelah ini,” ujar kakak Ramazi, (dalam bahasa Aceh) yang rumahnya satu lokasi dan bersebelahan dengannya, ketika dikunjungi para mahasiswa KKM 05.
Kini Ramazi, hanya bisa menunggu uluran tangan dan perhatian dari pemerintah serta masyarakat agar dapat membantu memperbaiki pondok yang ditempatinya itu, setidaknya dengan harapan bisa berteduh dari hujan dan panas terik matahari.
Hal tersebut dapat terlihat dari pancaran bola matanya, meski tak dikatakannya, namun dapat dirasakan bahwa Ramazi, sangat mengharapkan tempat tinggalnya itu bisa diperbaiki.
Walaupun tak terbilang selayaknya bisa tercapai seperti rumah warga yang ada disekitarnya, namun setidaknya asalkan bisa berteduh saja mungkin Ramazi sudah sangat bersyukur.
“Tak mesti bagus yang terpenting ketika hujan Ramazi bisa berteduh di rumah berukuran 3×4 meter itu,” sebut Sekdes.
Menurut Sekdes, pihaknya sudah pernah mencoba melakukan permohonan bantuan rumah layak huni untuknya kepada instansi terkait, namun hingga kini belum juga ada tanggapannya.
“Kita sudah coba usulkan rumah layak huni untuk Ramazi, namun hingga kini belum juga terpenuhi,” jelas Sekdes.
Oleh karenanya, sebut Sekdes lagi, dalam penyampaian program kerja Senin (22/8/2022) malam itu, atas usulan warga, saya mencoba untuk sampaikan kepada mahasiswa KKM agar kiranya mungkin ada solusi yang bisa diupayakan dalam membantu warganya.






