Kedua, kesabaran dan kegigihan. Tet apam melatih dan membiasakan kita untuk biasa hidup gigih (ulet) dan sabar. Apam dibakar satu per satu, berbeda dengan panganan lainnya yang bisa dimasak sekaligus dalam jumlah banyak.
”Dari cara memasak apam ini, kita belajar akan arti kesabaran dan keuletan, sikap sabar dan gigih adalah kunci sukses dalam kehidupan ini, sering sekali orang gagal dalam hidup dan perjuangan karena tidak mampu bersabar dan tidak gigih (ulet) dalam bekerja/berjuang,” katanya.
Ketiga, keseimbangan. Tet apam harus seimbang, antara besarnya api, kecermatan, dan ketepatan waktu. Jika tidak seimbang dan sesuai maka apam akan gosong dan tidak dapat dikonsumsi.
Keseimbangan dalam hidup ini adalah hal utama, bagaimana kita bisa menyeimbangkan hubungan dengan Allah dan dengan manusia, keseimbangan dalam segala urusan, sikap adil dan saling menjaga dan menghargai.
Keempat, tidak untuk dimakan sendiri. Setiap tet apam pada satu rumah, maka sudah barang tentu apam tersebut akan dibagikan pada sanak saudara dan jiran tetangga.
”Tet apam mengajarkan kita untuk berbagi, kesetian, hidup sosial dan peka dengan lingkungan dan sesama. Ingat prinsip ”tidak ada apam yang dimakan sendirian,” bermakna berbagi pada sesama adalah ajaran adat istiadat dan syariat islam,” tutur Farid.
Lebih lanjut Farid mengajak agar tradisi tet apam harus dlestarikan bersama, karena tradisi ini mengajarkan untuk memperkuat tali persaudaraan dan saling. Untuk menjaga dan melastarikan tradisi ini.
Hadir dalam kegiatan itu, Anggota DPR-RI, Nasir Djamil, Anggota DPD-RI M. Fadhil Rahmi, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Muhammad Ridha, Ikatan Mahasiswa Pelajar dan Masyarakat (IMPM) Mutiara Raya, Zulmahdi Hasan, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Banda Aceh Nurmiati,
hadir juga Camat Mutiara Kab. Pidie, Saiful Amri dan Danramil Mutiara dan tamu undangan lainnya.[adv]






