Kedua, spirit agama. Hal ini jelas terlihat dari kebersamaan dalam proses tet apam, dimulai sejak dari perencanaan, proses, hingga penyajian hasil memasak bersama para keluarga dan tetangga dengan penuh keakraban,
Ketiga, spirit budaya, bila dikaji rutinitas tahunan peunajoh (kuliner) Aceh yang dilaksanakan pada bulan Rajab dalam kalender Hijriah, nilai dan spirit budaya sangat erat dengan jati diri bangsa.
Keempat, nilai pendidikan. Tentunya bicara bagaimana memandu teknik detail cara menghasilkan kuliner (khususnya apam) yang baik serta lezat untuk dinikmati. Kelima, nilai ekonomi. Biaya untuk bahan baku dari menu kenduri apam biasanya dikumpulkan masing-masing keluarga (meuripee), kemudahan bahan itu disatukan dan hasil masakan menjadi santapan penyajian bersama (diistilahkan khanduri) dalam suasana penuh pemaafan dan keakraban.
”Kenduri apam bagi orang Aceh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat dan menjadikannya sebagai momentum untuk silaturahim antarsesama,” kata Farid saat menyampaikan sambutannya.

Farid menambahkan ada beberapa filosofi kenduri tet apam. Pertama, mempertahankan tradisi. Meskipun apam walau bisa saja dimasak dengan alat masak yang modern, tetapi apam tidak akan terasa nikmat secara cita rasa dan aromanya jika tidak “ditet” secara tradisional, bisa dikatakan “tidak sah” disebut apam jika tidak diolah secara tradisional.
”Makna yang terkandung di sini, melalui tet apamlah kita dapat mempertahankan tradisi dan kebiasaan indatu kita, tet apam adalah warisan indatu yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya






