APJN.NET- AGARA– Tak terasa malam itu, sekira pukul 18.30 Wib, tim pewarta yang terdiri dari berbagai media dan LSM di Banda Aceh tiba di Dermaga Muara Situlen, Kecamatan Babul Makmur, Aceh Tenggara, Selasa, (24/1/2022)
Kehadiran para pewarta di wilayah tersebut tak lain karena terkait input desa yang terkenal subur dengan hasil perkebunan yang melimpah, ternyata harus dihadapkan dengan beragam persoalan, mulai dari penggunaan fasilitas publik serta pemanfaatan anggaran desa yang tidak transparan.
Walaupun, ada tersirat rasa kekhawatiran malam itu, hingga membuat pewarta dari Banda Aceh, semakin mawas diri ketika boat Robin berkapasitas 12 penumpang itu melaju ditengah derasnya air dan riakan gelombang.
Dalam perjalanan kurang lebih mencapai satu setengah jam dari Dermaga Situlen ke desa Lawe Serakut melalui jalur sungai tak membuat surut para pewarta melangkah.
Dengan bermodal lampu penerang handphone, setapak demi setapak para pewarta mendaki menuju desa Lawe Serakut, meski derasnya diguyur hujan hingga ada yang tergelincir karena licinnya medan. Namun, tetap bersemangat tanpa merasa lelah dengan dinginnya malam itu.
Dalam perjalanan menuju desa Lawe Serakut, para pewarta harus mendaki sekira 500 meter dari bibir sungai.
Dengan tertatih-tatih dan nafas ngos-ngosan masing-masing dari para pewarta baru bisa bernafas lega beristirahat di rumah salah satu warga yang berjualan di desa tersebut.
Disana, kami mulai bisa sedikit tersenyum, meski melelahkan dengan pakaian yang dipakai basah kuyup, penuh lumpur akibat tergelincir karena licinnya medan akibat hujan deras.
Malam itu, banyak cerita disampaikan warga setempat, mulai dari akses jalan yang tak memadai, penerangan listrik hingga tidak adanya transparansi penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) yang dikelola perangkat desa setempat.
Beranjak dari desa Lawe Serakut, malam itu juga masing masing dari awak pewarta dijemput warga menggunakan roda dua menelusuri Desa Bun Bun Indah.
Tak ubah seperti diawal perjalanan melalui jalur sungai, ketika hendak menuju desa Lawe Serakut, kini para pewarta kembali dihadapkan dalam perjalanan lewat darat dengan pekatnya malam hingga hujan deras serta jalan penuh lumpur.
Diatas roda dua, kisah malam itu dalam perjalanan hendak menuju Desa Bun Bun Indah berkisar jarak 40 kilometer lebih itu tak akan pernah terlupakan dalam benak pikiran.
Hujan deras, jalan yang penuh lumpur bercampur berbatuan besar mulai menghalangi perjalanan awak pewarta hingga beberapa menit sempat terhenti.
Mau tak mau harus menenteng sepatu atau sandal yang dipakai karena penuhnya genangan tanah liat disepanjang jalan hingga sampai pada sebuah desa Bun Bun Indah dengan perjalanan lebih kurang 4 jam.
Satu persatu dari kami, akhirnya tiba pada salahsatu rumah warga di desa Bun Bun Indah, sebut saja namanya Nurbaiti, (29 th).
Di rumah itu kami disambut hangat oleh sejumlah warga setempat, mereka begitu terharu bercampur gembira dengan kedatangan kami, terbias olehnya bak seorang dewa penyelamat yang sekian tahun merasa terbelenggu dengan berbagai persoalan di desa tersebut.
Mulai dari penggunaan anggaran desa yang kerap tidak transparan, sarana jalan yang tak memadai, pembangunan sarana publik yang terbengkalai hingga tak berfungsinya sarana kesehatan yakni Puskesmas pembantu (Pustu) pada desa tersebut.
Banyak hal yang disampaikan oleh warga disana terkait pelayanan dan fasilitas publik yang bisa dikatakan tak ada.
Menurut Nurbaiti, perangkat desa setempat sangat tidak transparan dalam pemanfaatan anggaran khususnya terkait dana desa.
Dia mencontohkan, pembangunan MCK, dimana ketika dia menanyakan hal tersebut kepada PPK, malah yang ada mendapat jawaban yang tak sepantasnya diucap seorang aparatur desa.
“Kami tidak takut, silahkan laporkan kepada siapapun jika kamu mau melaporkannya, silahkan laporkan,” ujar Nurbaiti, meniru ucapan pejabat PPK desa tersebut kepada dirinya.
Tambah Nurbaiti, menyebut sudah dua tahun MCK itu belum terselesaikan pembangunannya hingga penggunaannya tak dapat dirasakan oleh warga setempat.
Selanjutnya, pagi itu tim mencoba melakukan penelusuran, sekira pukul 10.00 Wib, Rabu (25/1/2022). Dimana, terlihat benar adanya MCK tersebut, dan belum dapat digunakan alias belum seratus persen terselesaikan.
Begitupun terkait fasilitas publik lainnya yang terbengkalai, seperti Puskesmas pembantu (Pustu) tepat berada di seputaran dalam satu lokasi sekitaran rumah penduduk yang tak lagi berfungsi sejak 2018, silam.
“Pustu itu sudah mulai tampak usang, tak lagi digunakan sejak 2018, hingga warga kesulitan ketika ada yang sakit, atau ibu-ibu yang hendak melahirkan sehingga warga setempat membawanya ke dukun yang ada di desa,” ucap Nurbaiti.
Katanya lagi, pernah suatu hari seorang ibu hamil seketika akan melahirkan, karena tak ada sarana medis di desa sehingga ia tak dapat tertolong dan menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan.
Lalu, media ini mencoba untuk menelusuri lokasi lainnya di desa Bun Bun Indah. Satu persatu kita menanyakan kepada warga lainnya, namun anehnya, warga lebih memilih diam tak berani berbuka suara, meski ada rasa ingin menyampaikan tapi tak berani untuk mengungkapkannya.

Sepertinya, banyak persoalan yang belum terungkap disana, ada rasa ketakutan yang berlebihan terlintas di wajah mereka. Ada rasa cerminan intervensi dan diskriminatif.
Amatan media ini dilapangan rasa renggang sesamanya pun mulai tampak terlihat nyata, kasak-kusuk dan celoteh warga semakin membias mewarnai di desa tersebut. Tak heran ketika kita mencoba mewawancarai salah seorang warga yang ketika itu mengaku sebagai pekerja pada pembangunan masjid yang terlihat tahap pembangunannya baru mencapai titik pondasi.
Informasi diterima media ini Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan masjid itu berkisar Rp1 miliar. “Ada bantuan dari Turki disana, sebesar Rp100 juta, sedangkan donasi dari warga setempat, baru mencapai Rp20 juta,” tutur Nurbaiti.
Lebih lanjut, ketika awak pewarta menanyakan keberadaan kepala desa lama (penghulu), kepada salahseorang sumber yang ditemukan di lokasi pembangunan mesjid tersebut, mengatakan sudah meninggal karena tabrakan.
“Kepala desa lama sudah meninggal karena tabrakan,” sebut pria yang mengaku bekerja ikhlas tanpa menentukan berapa ongkos yang diberikan kepadanya itu terkait pembangunan mesjid tersebut.
Tanpa rasa curiga, para awak media berlalu meminta izin, karena akan melanjutkan ke lokasi lainnya, untuk mengambil dokumentasi dan informasi lainnya terkait realisasi dana desa yang telah digunakan.
Konon, mirisnya ketika awak media mencoba menggali kebenaran soal meninggalnya kepala desa (penghulu lama) kepada warga lainnya, mengatakan bahwa kepala penghulu lama itu masih ada.
“Yang meninggal itu isterinya, bukan penghulu,” tukas warga tersebut.
Oleh dari situlah, kecurigaan para awak jurnalis, mulai menampakan titik terang dan kembali mencoba untuk mengembangkan kebenaran tabir persoalan yang sebenarnya terjadi atas penggunaan anggaran desa yang dinilai tidak transparan itu hingga menimbulkan konflik internal terhadap sesama warga setempat.
Konon lagi kata warga bahwa terhadap sumber yang kami tanyakan terkait keberadaan kepala desa lama, itu ternyata adalah orang tuanya kepala desa yang baru yang tak lain adalah ayah dari kepala penghulu baru itu.
Disini jelas, jika diamati bahwa di desa tersebut telah terjadi adanya konflik kepentingan, dimana pihak yang berkuasa bebas berbuat apa saja demi harta, tahta, dan kekuasaan, tanpa menghiraukan bahwa kewenangan yang ditangannya itu akan membawanya kedalam jeratan hukum. [**]






