Miris, Seorang Janda Terpaksa Hidup Di Gubuk Reyot Bersama Dua Orang Anaknya

“Ya, orang tua mana mau membiarkan anaknya tidak sekolah, saya juga kepingin anak saya sukses, bisa hidup dengan lebih layak, tidak seperti saya yang sekarang. Saat ini saya terus mencari pekerjaan yang gajinya cukup untuk membiayai pendidikan anak saya, walaupun memang sulit menemukan pekerjaan yang tepat karena anak saya yang kedua masih berumur 10 bulan”.

Anaknya meninggal himpitan ekonomi juga membuat ia tak berdaya ketika putra semata wayangnya harus terbaring sakit di rumah dengan perawatan seadanya.

Ketika itu ia sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan makan kedua anaknya, dan tidak menyadari bahwa putranya sudah sakit parah. Mungkin karena mereka sudah terbiasa terdidik untuk tidak mengeluh.

Setelahnya, ia membawa putranya ke rumah sakit untuk dirawat. Hanya berselang beberapa hari, putranya menghembuskan nafas terakhir di pangkuan bu Sakdiah.

“Seandainya saya memiliki sedikit uang, mungkin saya bisa libur bekerja dan segera membawanya berobat, tetapi mungkin ini sudah takdir yang harus saya terima, semoga anak saya mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya”

Sahabat Dermawan, Kehidupan bu Sakdiah adalah salah satu potret yang sangat menyedihkan dan luput dari pandagan kita selama ini. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun hidup dalam serba kekurangan.

Sangat tidak baik jika kita membiarkan kehidupannya yang seperti itu berlanjut. Oleh karena itu Aksi Cepat Tanggap Langsa berupaya mengajak semua Sahabat Dermawan yang ada di mana saja untuk ikut membantu memenuhi biaya kehidupannya sehari-hari sehingga ia mampu merawat keluarga kecilnya dan menjadi anak-anak yang sholehah.

Pos terkait