Miris, Seorang Janda Terpaksa Hidup Di Gubuk Reyot Bersama Dua Orang Anaknya

Sayangnya tidak setiap hari ia bisa bekerja, jika dihitung-hitung rata-rata ia bekerja 15-20 hari saja dalam sebulan. Lalu bagaimana ia memenuhi kebutuhan keluarganya?

Bu Sakdiah mencoba berbagai macam cara agar ia bertahan hidup, tak jarang harus berhutang dan baru kemarin ia menggadaikan emasnya yang tak lebih dari Rp. 300.000. Sedangkan untuk makan, ia bercerita kerapkali berpuasa karena tidak ada yang bisa dimasak.

“ Kalau gak ada yang bisa dimasak, saya dan anak tidak makan. Mau mengeluh atau meminta kepada tetangga juga saya sudah malu, karena sering tidak memiliki makanan, jadi daripada merepotkan orang lain saya lebih memilih diam dan berusaha sebisanya,” terangnya.

Menu makanan yang disajikan untuk keluarga kecilnya juga sangat sederhana, nasi putih dengan ikan asin adalah menu utama yang kerap ia nikmati. Wajar saja, jika didapurnya kita hanya mendapati deretan ikan asin yang dijemur diatas kayu. Ikan yang dijemur itupun tidak banyak, jika dilihat sebenarnya hanya kebutuhan 1 hari, tetapi bu Sakdiah menyiasatinya agar bisa dinikmati selama satu minggu.

Nasib Dara yang Putus sekolah

Dara adalah anak perempuan sulungnya terpaksa tidak melanjutkan pendidikan karena tidak memiliki kemampuan membiayai kebutuhan sekolah, seperti membeli seragam, perlengkapan tulis dan sebagainya.

“ Dara sempat sekolah sampai kelas 3 SD, Cuma karena kemarin saya tidak memiliki uang lagi, yaa terpaksa ia berhenti sekolah,” tutur bu Sakdiah.

Ia sadar bahwa Pendidikan sangatlah penting bagi anaknya, oleh karena itu ia sekarang sedang berjuang mencari pekerjaan yang memiliki pendapatan yang lumayan sehingga anaknya dapat melanjutkan pendidikan lagi.

Pos terkait