Miris, Seorang Janda Terpaksa Hidup Di Gubuk Reyot Bersama Dua Orang Anaknya

Jika kita tidur, tepat diujung kaki disitu adalah tempat bu sakdiah memasak. Hanya ada satu wajan penggorengan dan satu panci untuk memasak nasi, itupun kondisinya sudah sangat tidak layak. Ukuran dapur tak lebih dari 70 cm x 150 cm.

Ironisnya, tidak semuanya bagian dari dapur memiliki atap, jika hujan turun sudah pasti bu Sakdiah tidak bisa memasak. Tetapi katanya, itu sengaja tidak diberikan atap agar bisa dipakai untuk kamar mandi.

“Di dapur itu bukan hanya untuk memasak, kami juga pakai untuk mandi, jadi memang sengaja atapnya kami bolongin,” tambahnya.

Pendapatan tak menentu
beberapa karung kulit kerang berjejer rapi dibawah rumah bu Sakdiah, ini hanya sebagiannya saja yang belum sempat ia buang di lobang yang sudah disiapkan agar tidak mengotori lingkungan.

Menurutnya, mencari kerang makin hari makin susah saja, ia harus menghabiskan waktu lebih lama dibanding belasan tahun yang lalu ketika ia masih remaja.

“Ya bisa dibayangkan jika ketersediaan kerang menipis, maka pendapatannya juga sangat sedikit. Sehari itu jika saya mencari kerang, paling dapat 20 ribu rupiah, jika ditanya cukup, ya tidak cukup pastinya, tetapi mau gimana lagi bang, saya tidak tau harus gimana lagi,” papar bu Sakdiah.

Bu Sakdiah tidak setiap hari bekerja mencari kerang, jika ada yang memintanya menyetrika baju, ia dengan senang hati akan mengerjakannya. Upah yang diterima juga tidak banyak, maklum saja itu dikerjakan dengan upah harian yang berkisar Rp20.000,- Rp30.000,- saja, tergantung dari banyaknya yang harus ia setrika.

Pos terkait