Profil dan Perjalanan PentaSagoe

Pertengahan tahun 2015 pemilik tanah, tempat pentasagoe berdiri di Lampaseh Kota, mengabarkan bahwa tanahnya akan dipakai sendiri dan tidak disewakan lagi.

Maka sejak saat itu pentaSagoe kembali fakum. Setelah beberapa lama saya mengumpulkan uang dan mencari lokasi lain, namun tidak juga saya dapatkan lokasi yang cocok, barulah pada menjelang akhir tahun 2015 saya mendapat kabar bahwa Kantin Taman Budaya dalam keadaan kosong dan akan ditenderkan, maka sayapun berniat ikut. Maka pada tanggal 10 Desember 2015 warung kopi yang saya beri nama PenSagoe coffee shop mulai saya buka, sambil perlahan saya persiapkan untuk sekalian menjadi sebuah panggung kecil PentaSagoe.

Alhamdulillah, untuk tahun 2016 ini, Disbudpar Aceh melalui Taman Seni dan Budaya Aceh memberi sedikit dukungan dana untuk mengadakan acara PentaSagoe, yang kemudian kami minta dapat dijadikan 10 kali acara. Hal ini kami lakukan agar lebih banyak dapat terekrut kesenian, seniman dan kelompok kesenian dari seluruh Aceh yang dapat terpantau oleh kami serta memenuhi kriteria seperti tersebut di atas tadi.

Meskipun sebelumnya di pentasagoe yang sangat sederhana ini telah kami adakan beberapa acara kecil, namun kami menganggap malam inilah edisi perdana acara PentaSagoe untuk tahun 2016. Dan pada malam hari ini, selain kelompok kesenian dari Banda Aceh, juga kami hadirkan seorang seniman tutur dari Manggeng, pantai selatan Aceh, yang selama ini tersebunyi, luput dari pandangan kita, termaginalkan oleh suatu keadaan. Dia adalah Muda Balia, putra kandung, sekaligus murid langsung dari sang trobador Mak Lapee, gurunya Teungku Adnan PMTOH.[].

Pos terkait