Setiap pengisi acara tidak diberikan honor, tapi hanya sekedar uang minum atau uang transport. Demikian juga halnya kepada teman-teman yang membantu bekerja, bahkan ada beberapa teman yang rela tidak diberikan uang sama sekali.
Sekitar hampir dua tahun kemudian acara PentaSagoe berpindah ke panggung halaman Taman budaya. Namun karena saya sering pergi ke luar Banda Aceh berminggu-minggu, bahkan kadang berbulan bulan, ikut bersama tim beberapa NGO asing maupun lokal yang membantu Aceh pasca konflik, gempa dan tsunami, maka untuk menjalankan PentaSagoe pernah saya percayakan kepada beberapa teman.
Namun kemudian karena PentaSagoe berjalan kurang sesuai dengan konsep semula maka saya berkesimpulan untuk menghentikannya sementara waktu. Kefakuman itu sempat berlangsung hingga beberapa tahun.
Sekitar akhir tahun 2009 Pentasagoe berpindah ke tempat baru, dengan menyewa tanah kosong dan membangunnya sendiri secara perlahan sejak awal 2007 lengkap dengan warung kopi dan wifi sebagai sarana pendukungnya, di Lampaseh Kota Banda Aceh. Selama di Lampaseh Kota acara Pentasagoe kembali berlangsung, namun tidak serutin saat di Taman Budaya karena keterbatasan dana yang saya miliki. Selama di Lampaseh Kota acara pentasagoe pernah dua kali acara digelar dan didukung oleh Disbudpar Kota Banda Aceh (saat itu Kadisnya adalah Reza Fahlevi).
Untuk tujuan berbagi pengalaman serta menumbuhkan rasa percaya diri kepada seniman maupun kelompok seni yang masih termaginalkan seperti tersebut di atas maka PentaSagoe kadang-kadang juga menghadirkan seniman maupun kelompok seni yang sudah banyak pengalaman atau sudah profesional, baik yang ada di Aceh, luar Aceh bahkan luar negeri. Sebagai contoh, PentaSagoe pernah menampilkan Agam Hamzah, pemusik Nasional asal Aceh yang menetap di Jakarta). Menghadirkan Natsuko Tezuka ( penari kontemporer Jepang) untuk berkolaborasi dengan beberapa seniman dan kelompok seni Aceh. Menghadir seniman dari Medan, Bali, Jakarta dan lain-lain.






