“Selain lebih fokus pada kesenian, seniman dan kelompok kesenian yang termaginalkan seperti tersebut di atas, Pentasagoe juga pernah membuat acara-acara bentuk kepedulian sosial. Diantaranya adalah Doa bersama dari Aceh untuk korban gempa-tsunami Jepang pada Maret 2011”
PentaSagoe adalah nama sebuah panggung , sekaligus juga sebagai nama sebuah lembaga kebudayaan kecil non formil, yang memfokuskan diri untuk membuka ruang kepada kesenian, seniman serta kelompok seni yang dianggap berpontensi, namun masih tersembunyi diberbagai sudut (bahasa Aceh;sagoe) bersebab termarginalkan oleh cara pandang suatu kebijakan maupun oleh suatu keadaan.
PentaSagoe hadir saat Aceh masih porak-poranda dalam segala hal, termasuk kebudayaannya, bersebab konflik politik berkepanjangan serta gempa-tsunami yang melandanya.
Maka setelah diumumkannya hasil MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005, berselang tiga hari kemudian, dari pengumuman yang menggembirakan itu, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 2005, acara PentaSagoe diadakan untuk pertama kalinya dengan membuat sebuah panggung kecil di sudut kiri belakang gedung utama Taman Budaya Aceh.
Alasan dibuatnya sebuah panggung kecil di sudut kiri belakang gedung Utama Taman Budaya adalah karena dalam gedung Utama Taman Budaya masih ditempati oleh tentara (TNI BKO), serta di Gedung Terbuka dan Pentas Halaman Taman Budaya masih ramai para pengungsi, koban gempa-tsunami, yang menempatinya.
Sejak tanggal 18 Agustus 2005 tersebut acara PentaSagoe berlangsung rutin di panggung kecil sudut kiri belakang Gedung Utama Taman Budaya setiap malam Minggu hingga beberapa tahun kemudian, tanpa ada tercantum nama sponsor ataupun donatur di spanduk atau backdrop acara.






